Rabu, 28 Februari 2018

Mango Dessert vs Asinan Mangga

Mango dessert

Beberapa waktu lalu bisnis mango dessert sedang booming. Olahan mangga ini sangat digemari sehingga banyak pengusaha yang menjualnya dengan merek dagang yang berbeda-beda walaupun rasa dan tampilan hampir identik. Sepertinya dessert ini lahir dari thailand dan masuk ke negara-negara sekitarnya. Saya pertama kali mencoba ketika di China dan antriannya memang berjibun, pada saat itu di Indonesia belum masuk. 
                 
                    Suzhou-China
Zhuhai-China
  Dokumentasi pribadi

Saya sendiri memiliki refleksi pribadi dengan ilustrasi buah mangga. Berawal dari kalimat "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu....", saya merasa sudah meminta kepada sang pencipta ingin menjadi mangga dan jadilah saya adalah mangga. Tetapi, ternyata saya itu mangga cengkir bukan mangga harum manis yang berwarna orange tua dan memiliki rasa yang manis. Bukan mangga yang digemari banyak orang, bukan mangga yang  jadi mango dessert itu. 


Mangga itu ada bermacam-macam loh, sebelum bercerita lebih lanjut, mari membahas singkat tentang beberapa jenis mangga yang saya tahu. Setelah googling dan mencari tahu ternyata ada banyak sekali jenis mangga di dunia ini, namun dibawah ini hanya jenis-jenis mangga yang pernah saya makan. Berhubung saya bukan ahli mangga, maaf kalau tidak akurat dan kalau mau beli mangga ada baiknya tanya penjualnya saja itu jenis mangga apa. :p

  • Mangga gedong/ gincu
Sumber : Google Search
Bentuknya lebih bulat dan warna kulitnya kuning kemerahan tidak hijau semua. Rasanya manis, dan karena menempel pada kulitnya dimakan dipotong kotak-kotak seperti di gambar.



  • Mangga harum manis
Sumber : Google Search
Sumber : Google Search
Rasanya manis dan wangi.
Kulitnya hijau tetapi seperti ada siraman gula (entah apa disebutnya)

  • Mangga simanalagi
Sumber : Google Search
Warna kulitnya hijau tetapi lebih pucat. Warna buahnya pun putih dan kuning jarang sekali orange tua.






  • Mangga cengkir / indramayu
Warna kulitnya hijau. Tidak terlalu berserat. Untuk dirujak lebih enak yang masih belum matang. Biasanya saya dapat dari kebun saudara.

Sumber : Google Search
  • Mangga kueni
Sumber : Google Search
Rasanya manis dan asam. Tidak banyak seratnya.









    • Mangga madu

    Sumber : Google Search
    Ukuran buahnya lebih kecil dan gepeng dibanding buah mangga lainnya. Rasanya manis seperti harum manis tetapi banyak serat-seratnya dan nempel dengan kulitnya. Saya mencicipinya ketika di China, sepertinya import dari Thailand.


    Curhatan tentang Mangga

    Dan seperti yang diceritakan diatas, renungan saya malah terinspirasi dari illustrasi mangga. Bukan menjadi mangga harum manis yang dipikiran saya tapi jadi mangga cengkir. Bukan berarti mangga cengkir itu buruk. Mangga cengkir juga enak, manis, serta segala keunggulan lainnya. Hanya saja mangga cengkir tidak semanis dan seharum mangga harum manis. Tapi tahukah kalau mangga yang biasa dibuat asinan atau rujak tidak memakai mangga harum manis? Ya, mangga cengkirlah yang digunakan sebagai mangga asinan atau rujak. Mungkin karena tekstur mangga cengkir lebih keras dibanding harum manis yang lebih lembek.

    Jadi kesimpulannya, saya bukan mangga yang diolah menjadi MANGO DESSERT, tetapi mangga yang diolah menjadi ASINAN/RUJAK MANGGA. 
    Jadi lapar ya, ingin mangga rasanya.

    Bandung-Indonesia
    Kehidupan manusia juga seperti itukan, kita semua sama-sama manusia tapi ada yang membedakan kita. Sama-sama mangga tetapi beda dalamnya jadi beda jenis, beda nama. Manusia memiliki segala keunikan karakteristiknya masing-masing. Kita berbeda satu sama lain. Saudara kembar identik pun berbeda. Kebanyakan dari kita memiliki angan-angan cita-citanya sendiri. Ingin jadi mango dessert yang kece, nge hitzzz, instagramable. Tapi jadinya malah asinan rujak yang mungkin kurang kekinian. 

    Kecewa? Bangeeet!! 

    Sering bertanya-tanya "Kok mereka bisa ya?", "Kok keren ya", "Mau ih begitu". Mulai deh membandingkan diri dan berusaha supaya bisa seperti itu. Tetapi sekeras apapun kita berusaha, kita cuma mangga cengkir yang memberikan totalitas maksimal menjadi asinan/rujak mangga. Mau dipaksa pun ya jadi sih mango dessert tapi tidak total, yang akhirnya kalah bersinar lagi dengan si harum manis. Oh cengkir, cengkir sadarlah kir, jadi asinan/rujak mangga juga enak kok, juara deh.

    Seiring waktu, kalau digambarkan ya, rasanya orang-orang yang mengenal saya melihat saya itu mangga. Dan mangga yang dikira adalah mangga harum manis. Pas dikupas eh ternyata mangga cengkir. Begitulah kira-kira. Mereka kecewa, saya pun kecewa. Sering ngejudge diri kok bukan jadi harum manis sih, dan ngepush diri untuk jadi harum manis. Tapi sekarang saya sadar, saya cuma cengkir dan inilah saya. Mulai agak sabodo teuing. Kalau memang yang mau tahu saya dengan baik ya siap-siap aja ga dapet manisnya dan pasti ga enak diawalnya, sepet jadi harus berusaha dulu deh, tambah bumbu-bumbu dijadiin rujak/asinan. Bukannya mau jual mahal, tetapi dari awal saya ingin mematahkan stigma atau harapan yang menganggap saya ini harum manis. NO! NO! NO!

    Ingin jadi orang kaya

    Untuk generalnya, berapa banyak dari kita yang ingin kaya? Hayo ngaku! Mungkin kita minta sama Tuhan supaya jadi orang kaya. Tapi kok begini-begini aja ya? Tuhan belum ngabulin nih doa saya untuk jadi orang kaya. Eit, belum tentu. Bisa jadi sudah terkabul loh, kita sudah jadi orang kaya.

    "Kaya darimana? Saya belum kebeli mobil loh cuma punya motor"

    "Iya lu ma enak kaya, Hp gue masih nyicil tau ga"

    Bukan saya bermaksud menyinggung ya, maafkan seribu maaf. Bukan mau ngejudge, bukan saya tidak sayang atau menghormati mereka. Tapi saat saya mencoba menghitung berkat, saya menyadari kita itu orang-orang kaya loh, bukan berdasarkan banyaknya saldo di rekening tapi dengan apa yang ada dan yang dimiliki.

    Orang yang belum kebeli mobil, tetapi dia punya motor loh, punya rumah, punya pekerjaan tetap, punya sepasang kaki yang sehat dan normal. Standar kaya yang dibangun adalah PUNYA MOBIL=ORANG KAYA. Lantas bagaimana dengan orang yang tidak punya kendaraan bahkan ga mampu membayar kendaraan umum, yang rumahnya sepetak dari dus atau tidur di emperan jalan trotoar. Menurut saya si CENGKIR sudah termasuk orang kaya meskipun tidak punya mobil. Tapi dia membandingkan dengan si HARUM MANIS yang punya mobil.

    Orang yang masih mencicil HP ini, minimal seminggu dua kali ke cafe dan sering sekali belanja online. Saya tidak bilang dia boros, tetapi itulah caranya menikmati hidupnya, caranya dia menerima berkat. Setiap jatuh tempo waktu bayar cicilan hp, dia stress bingung gali lubang tutup lubang dan damai sukacita dia terenggut karena harus pusing bayar tagihan kartu kredit setiap bulan. Pada akhirnya melampiaskan pada orang lain dengan bilang mereka orang kaya. Jujur saja hp dia yang dulu masih bagus, kenapa dia ganti dengan yang ini sehingga pusing harus mencicil disaat ada banyak keperluan lainnya. Kenapa tidak pakai yang lama dulu dan menabung untuk beli yang baru. Sekali lagi itu hanya pendapat saya saja tetapi dia yang menjalani, dia yang lebih tahu kebutuhannya.

    Jadi apakah yang dimaksud ingin jadi orang kaya dalam doamu? Bisa makan 3x sehari menurut saya sudah termasuk orang kaya.

    "Orang kaya berpikir nanti makan apa, tetapi orang yang kekurangan berpikir nanti bisa makan atau tidak. Orang kaya bisa memilih makan ini atau itu, orang yang kekurangan tidak punya pilihan."

    Bisa jadi kita minta mangga dalam arti menjadi kaya. Tuhan sudah memberi kita banyak mangga-mangga dalam kehidupan kita, tetapi mangga cengkir atau mangga lainnya bukan mangga harum manis. Terima saja jangan ditolak, syukuri, jangan lupa ditambah garam & gula kita jadikan asinan mangga. :)
    Sumber : Google Search

    Baca juga Silent is golden?





    P .s :
    Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar hak cipta atau menyalin karya orang lain.

    Minggu, 11 Februari 2018

    Silent is Golden?


    Diam itu emas?


    Mungkin sering sekali kita mendengar kalimat bijak tersebut. Namun benarkah kalau diam itu emas? Apakah diam itu sesuatu yang berharga sehingga disamakan dengan sebuah logam mulia emas?

    Diam itu emas, karena dengan diam kita tidak memicu pertengkaran. Dengan diam kita meredam emosi tak menyalurkannya. Dengan diam kita mengalah, dengan diam kita menyadari kita lebih baik daripada tong kosong nyaring bunyinya.

    Sesabar apapun manusia, kalau disakiti terus menerus pasti ada batasan kesabarannya. Mungkin dia akan tetap diam tapi hatinya menangis dan bisa jadi ketika meledak, bersiap-siaplah.

    Diam bukan berarti tidak ada yang ingin dikatakan.

    Ada banyak sekali keluhan yang tak terucap, bingung mau mulai dari mana, takut menyinggung dan melukai perasaan orang lain, atau selalu disalahkan tidak pernah benar. Lambat laun menjadi seorang yang pendiam karena tidak ada yang mendengar, bahkan diri kita sendiri pun tidak mendengar. Contohnya saja, saat kita membutuhkan sesuatu dari seseorang, lalu ternyata orang tersebut sedang sibuk, dan kita akan diam dan tidak jadi mengutarakan keperluan kita. Kita berdalih dan mengatakan pada diri sendiri "Ya sudah, tidak apa-apa. Saya bisa sendiri meski diluar batas kemampuan saya, dia sibuk, jangan merepotkannya". Terjadi berulang-ulang, lagi dan lagi, maka akhirnya kita hanya akan diam dihadapan orang tersebut karena tidak mau merepotkannya.

    Menurut saya pribadi, diam tidak selalu emas. Karena terbiasa diam, saya kesulitan mengungkapkan apa yang menjadi keinginan saya. Dengan diam saya lebih menyenangkan banyak orang dibandingkan bersuara dan akhirnya mengecewakan diri sendiri.



    Sedari kecil, saya dididik untuk tidak rewel dalam urusan makan. Saya akui, saya memang tidak sulit dalam hal makanan, saya suka segala baik sayur maupun daging. Sekalipun tidak suka kalau memang harus dimakan ya pasti dimakan juga. Dan pantang menyisakan makanan jadi kenyang pun piring saya akan bersih. Setiap ditanya "Mau makan apa?", saya lebih memilih diam atau terserah. Karena saya memang tidak masalah makan apapun. Kalau saya bilang mau pizza pasti ditolak, saya ingin spagetti pasti dibilang makan mie kocok lebih enak. Makan kesana atau kesini boleh yang mana juga tidak apa-apa. Jadi bukankah lebih baik diam? Dengan diam saya menyenangkan orang lain.

    Banyak juga yang bilang saya ini pendengar yang baik. Ketika seseorang bercerita umumnya mereka hanya ingin didengar dan kemampuan saya untuk diam memang patut dipuji. Hanya pada saat diminta saran mungkin saya akan mengucapkan kata bijak karena saya melihat dari sudut pandang lain mungkin atau karena sering mendengar cerita orang. Tetapi yang perlu digaris bawahi dan menjadi refleksi bagi diri saya sendiri adalah orang-orang bisa bercerita banyak hal bahkan masalahnya pada orang lainnya termasuk pada saya namun mengapa buat saya itu adalah hal sulit. Karena terbiasa diam ketika ditanya "lu sendiri gimana" ; "ada cerita apa?" entah apa yang harus saya lakukan. Mulutku membisu dan otak ini bingung perlu atau tidak menceritakan segalanya. Sangking lamanya berpikir cerita atau tidak, ya moment untuk bercerita sudah terlewat.

    Ketika sudah percaya pada seseorang, saya akan sangat cerewet. Segala hal ingin saya ceritakan baik cerita geje, cerita senang, cerita sedih, keluhan serta masalah. Orang-orang seperti ini sangat jarang, bisa dihitung jari. Umumnya saya memilah-milah, untuk cerita ini lebih nyaman dengan orang ini, dan cerita yang lain dengan orang yang lain. Lucunya ketika saya cerita dengan orang yang tidak dekat biasanya berakhir dengan saya yang mendengarkan curhat orang tersebut. Kalau kita saling cerita, itu sangat menyenangkan bisa sharing bersama, saling menguatkan, tertawa menangis bareng, jadi masukan untuk diri masing-masing belum lagi kalu berdebat dan bertukar pikiran.

    Ada banyak hal juga yang membuat saya sulit membuka diri. Tetapi ketika saya bercerita banyak, rasanya ingin juga mendengar kisah orang tersebut untuk saling mengenal dan lebih memahami, Tetapi pikiran saya sering kali menghambat. Takutnya ketika saya menceritakan masalah, orang tersebut sedang bahagia dan kisah saya malah membuatnya bersimpatik dan tidak jadi membanggakan kisahnya. Atau ketika saya senang dan menceritakannya, orang tersebut sedang dirundung masalah sehingga dia tidak mau saya ikut bersedih pada masalahnya sehingga dia memilih diam.

    Pengalaman pribadi saya juga membuat saya merasa diam itu lebih baik meskipun tidak bisa dibenarkan, Sewaktu kuliah di China, saya beberapa kali ke bar bersama teman-teman internasional lainnya. Saya itu disayang sekali oleh teman-teman asing, mereka tahu saya anak baik dan mereka menjaga saya. Jujur saja malah teman dari Indonesia yang menawari saya minum minuman beralkohol. Teman dari luar malah menyarankan saya minum jus bahkan ada yang menawarkan diri meminum bir yang diberikan pada saya. Intinya saya dilarang minum oleh mereka.

    Saya takjub pada teman sekelas french girl yang menari mengikuti musik, dia menarik saya dan mengajak menari. Tapi saya malu sehingga hanya terdiam, lagi-lagi saya diam. Bukannya tidak bisa menari, tapi saya diam karena malu. Takut gerakan saya aneh atau kaku, padahal kalau saya sedang sendiri di kamar terkadang sambil mendengarkan musik pun joget-joget ga jelas. Sesuatu hal yang hanya biasa kulakukan saat sendiri, kalau ada yang lihat ya diam.
    Saya menceritakan ini pada mama saya melalui WA, dan tentu saja saya dimarahi, HAHAHA. Mengikuti komsel persekutuan gereja dan karena tempat tinggal saya cukup jauh dengan tempat berkumpul saya baru pulang jam 11 malam, itupun dimarahi karena saya bilang baru pulang. Cerita kalau saya ikut pelayanan doa keliling pun dimarahi karena takut nanti diciduk oleh pemerintah sana. Mengirimkan foto makanan pun diomeli untuk tidak makan yang seperti itu, tidak sehat. Akhirnya saya memilih diam. Tidak cerita apa-apa, kecuali ditanya.

    Rasanya sulit untuk menjawab diam itu baik atau tidak. Disatu sisi baik, disisi lain juga tidak. Seorang istri yang kecewa karena suaminya tidak pernah mengingat ulang tahun pernikahan mereka, maka selama bertahun-tahun pernikahan mereka sang istri kecewa. Dibandingkan diam dan menunggu suatu hari sang suami akan peka, apabila sang istri tidak diam tetapi mengungkapkan, bukankah ditahun berikutnya ada kemungkinanan ia tidak akan kecewa pada hari ulang tahun pernikahannya. Saat ada masalah dan memilih diam dan tak menyelesaikannya bukannya hanya menumpuk saja, tetapi ditumpuk dan didiamkan pun terkadang jadi pilihan yang baik agar tidak terjadi konflik.

    Jadi apakah diam itu emas?
    Silahkan untuk menulis jawaban anda di kolom comment. Thank you.


    P .s :
    Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

    Mengeluh karena Sebal

    Hal yang Mengganggu "Kenapa sih? Nyebelin deh!" "Ih..Sebel bgt deh" "Dasar annoying" Mungkin ki...