Diam itu emas?
Mungkin sering sekali kita mendengar kalimat bijak tersebut. Namun benarkah kalau diam itu emas? Apakah diam itu sesuatu yang berharga sehingga disamakan dengan sebuah logam mulia emas?
Diam itu emas, karena dengan diam kita tidak memicu pertengkaran. Dengan diam kita meredam emosi tak menyalurkannya. Dengan diam kita mengalah, dengan diam kita menyadari kita lebih baik daripada tong kosong nyaring bunyinya.
Sesabar apapun manusia, kalau disakiti terus menerus pasti ada batasan kesabarannya. Mungkin dia akan tetap diam tapi hatinya menangis dan bisa jadi ketika meledak, bersiap-siaplah.
Diam bukan berarti tidak ada yang ingin dikatakan.
Ada banyak sekali keluhan yang tak terucap, bingung mau mulai dari mana, takut menyinggung dan melukai perasaan orang lain, atau selalu disalahkan tidak pernah benar. Lambat laun menjadi seorang yang pendiam karena tidak ada yang mendengar, bahkan diri kita sendiri pun tidak mendengar. Contohnya saja, saat kita membutuhkan sesuatu dari seseorang, lalu ternyata orang tersebut sedang sibuk, dan kita akan diam dan tidak jadi mengutarakan keperluan kita. Kita berdalih dan mengatakan pada diri sendiri "Ya sudah, tidak apa-apa. Saya bisa sendiri meski diluar batas kemampuan saya, dia sibuk, jangan merepotkannya". Terjadi berulang-ulang, lagi dan lagi, maka akhirnya kita hanya akan diam dihadapan orang tersebut karena tidak mau merepotkannya.
Menurut saya pribadi, diam tidak selalu emas. Karena terbiasa diam, saya kesulitan mengungkapkan apa yang menjadi keinginan saya. Dengan diam saya lebih menyenangkan banyak orang dibandingkan bersuara dan akhirnya mengecewakan diri sendiri.
Sedari kecil, saya dididik untuk tidak rewel dalam urusan makan. Saya akui, saya memang tidak sulit dalam hal makanan, saya suka segala baik sayur maupun daging. Sekalipun tidak suka kalau memang harus dimakan ya pasti dimakan juga. Dan pantang menyisakan makanan jadi kenyang pun piring saya akan bersih. Setiap ditanya "Mau makan apa?", saya lebih memilih diam atau terserah. Karena saya memang tidak masalah makan apapun. Kalau saya bilang mau pizza pasti ditolak, saya ingin spagetti pasti dibilang makan mie kocok lebih enak. Makan kesana atau kesini boleh yang mana juga tidak apa-apa. Jadi bukankah lebih baik diam? Dengan diam saya menyenangkan orang lain.
Banyak juga yang bilang saya ini pendengar yang baik. Ketika seseorang bercerita umumnya mereka hanya ingin didengar dan kemampuan saya untuk diam memang patut dipuji. Hanya pada saat diminta saran mungkin saya akan mengucapkan kata bijak karena saya melihat dari sudut pandang lain mungkin atau karena sering mendengar cerita orang. Tetapi yang perlu digaris bawahi dan menjadi refleksi bagi diri saya sendiri adalah orang-orang bisa bercerita banyak hal bahkan masalahnya pada orang lainnya termasuk pada saya namun mengapa buat saya itu adalah hal sulit. Karena terbiasa diam ketika ditanya "lu sendiri gimana" ; "ada cerita apa?" entah apa yang harus saya lakukan. Mulutku membisu dan otak ini bingung perlu atau tidak menceritakan segalanya. Sangking lamanya berpikir cerita atau tidak, ya moment untuk bercerita sudah terlewat.
Ketika sudah percaya pada seseorang, saya akan sangat cerewet. Segala hal ingin saya ceritakan baik cerita geje, cerita senang, cerita sedih, keluhan serta masalah. Orang-orang seperti ini sangat jarang, bisa dihitung jari. Umumnya saya memilah-milah, untuk cerita ini lebih nyaman dengan orang ini, dan cerita yang lain dengan orang yang lain. Lucunya ketika saya cerita dengan orang yang tidak dekat biasanya berakhir dengan saya yang mendengarkan curhat orang tersebut. Kalau kita saling cerita, itu sangat menyenangkan bisa sharing bersama, saling menguatkan, tertawa menangis bareng, jadi masukan untuk diri masing-masing belum lagi kalu berdebat dan bertukar pikiran.
Ada banyak hal juga yang membuat saya sulit membuka diri. Tetapi ketika saya bercerita banyak, rasanya ingin juga mendengar kisah orang tersebut untuk saling mengenal dan lebih memahami, Tetapi pikiran saya sering kali menghambat. Takutnya ketika saya menceritakan masalah, orang tersebut sedang bahagia dan kisah saya malah membuatnya bersimpatik dan tidak jadi membanggakan kisahnya. Atau ketika saya senang dan menceritakannya, orang tersebut sedang dirundung masalah sehingga dia tidak mau saya ikut bersedih pada masalahnya sehingga dia memilih diam.
Pengalaman pribadi saya juga membuat saya merasa diam itu lebih baik meskipun tidak bisa dibenarkan, Sewaktu kuliah di China, saya beberapa kali ke bar bersama teman-teman internasional lainnya. Saya itu disayang sekali oleh teman-teman asing, mereka tahu saya anak baik dan mereka menjaga saya. Jujur saja malah teman dari Indonesia yang menawari saya minum minuman beralkohol. Teman dari luar malah menyarankan saya minum jus bahkan ada yang menawarkan diri meminum bir yang diberikan pada saya. Intinya saya dilarang minum oleh mereka.
Saya takjub pada teman sekelas french girl yang menari mengikuti musik, dia menarik saya dan mengajak menari. Tapi saya malu sehingga hanya terdiam, lagi-lagi saya diam. Bukannya tidak bisa menari, tapi saya diam karena malu. Takut gerakan saya aneh atau kaku, padahal kalau saya sedang sendiri di kamar terkadang sambil mendengarkan musik pun joget-joget ga jelas. Sesuatu hal yang hanya biasa kulakukan saat sendiri, kalau ada yang lihat ya diam.
Saya menceritakan ini pada mama saya melalui WA, dan tentu saja saya dimarahi, HAHAHA. Mengikuti komsel persekutuan gereja dan karena tempat tinggal saya cukup jauh dengan tempat berkumpul saya baru pulang jam 11 malam, itupun dimarahi karena saya bilang baru pulang. Cerita kalau saya ikut pelayanan doa keliling pun dimarahi karena takut nanti diciduk oleh pemerintah sana. Mengirimkan foto makanan pun diomeli untuk tidak makan yang seperti itu, tidak sehat. Akhirnya saya memilih diam. Tidak cerita apa-apa, kecuali ditanya.
Rasanya sulit untuk menjawab diam itu baik atau tidak. Disatu sisi baik, disisi lain juga tidak. Seorang istri yang kecewa karena suaminya tidak pernah mengingat ulang tahun pernikahan mereka, maka selama bertahun-tahun pernikahan mereka sang istri kecewa. Dibandingkan diam dan menunggu suatu hari sang suami akan peka, apabila sang istri tidak diam tetapi mengungkapkan, bukankah ditahun berikutnya ada kemungkinanan ia tidak akan kecewa pada hari ulang tahun pernikahannya. Saat ada masalah dan memilih diam dan tak menyelesaikannya bukannya hanya menumpuk saja, tetapi ditumpuk dan didiamkan pun terkadang jadi pilihan yang baik agar tidak terjadi konflik.
Jadi apakah diam itu emas?
Silahkan untuk menulis jawaban anda di kolom comment. Thank you.
Silahkan untuk menulis jawaban anda di kolom comment. Thank you.
Baca juga minta-tolong-atau-menyuruh?
P .s :
Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar