Minggu, 28 Januari 2018

Minta Tolong atau Menyuruh?


"Menyuruh dan minta tolong adalah dua hal yang berbeda jauh, namun seringkali disamakan."


Seberapa sering anda meminta orang lain untuk membantu? Apakah anda memang tidak mampu melakukannya sendiri? Ataukah sudah menjadi kebiasaan dan kita menjadi tergantung pada orang tersebut.

Jangan merasa tertuduh, tapi ada baiknya kita saling memeriksa diri. Atau mungkin tanpa disadari malah kita adalah orang yang merasa menolong tetapi sang peminta bukan meminta tolong melainkan menyuruh. Artinya kita melakukan apa yang disuruh orang lain bukannya menolong. Orang tersebut mungkin mampu melakukannya, tidak memerlukan bantuan orang lain, hanya saja MALAS.

Yap, benar sekali. Untuk apa repot-repot bersusah-susah kalau ada cara gampang. Bukankah begitu? Untuk apa turun dari sofa untuk mengambil remote TV kalau bisa menyuruh seseorang mengambilkannya, Disinilah perbedaannya, kalau memang kebetulan ada sesorang yang sedang berada dalam posisi lebih dekat dengan remote, maka wajar saja bila kita meminta tolong diambilkan. Tetapi, bagaimana jika orang lain sedang sibuk mengerjakan hal lain, anggap saja sedang memasak lalu dipanggil-panggil untuk mengambil remote. Orang tersebut memasak bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk seseorang yang sedang bersantai ria diatas sofa sambil menonton TV. Beda ceritanya kalau yang menonton TV sedang cedera parah sehingga tidak bisa berjalan. Ini dinamakan minta tolong.

Prinsip dasarnya adalah ketika kita meminta tolong pada orang lain artinya kita mengakui kelemahan kita, keterbatasan, ketidakmampuan kita sehingga butuh sarana pendukung lainnya. Dengan begitu kita mengakui pula bahwa orang lain terutama yang kita mintai tolong adalah orang yang lebih mampu atau memiliki kemampuan untuk mengerjakan hal yang kita perlukan.

Ketika atasan memberikan pekerjaan bisa jadi beliau bukan menyuruh, tetapi menyadari kalau dirinya tidak mampu mengerjakan hal tersebut (mungkin masalah waktu atau ada banyak pekerjaan lain) dan mengakui kemampuan anda untuk mengerjakannya. Mungkinkah seseorang memberikan tugas pada orang yang menurutnya tidak mampu dan hanya akan mengacaukan, sepertinya tidak. Dan kalau akhirnya sang bos marah-marah mungkin karena ekspektasi beliau terlalu tinggi, beliau sudah berharap banyak kalau pekerjaan tersebut akan seperti keinginannya tetapi nyatanya tidak. Lantas kita akan bilang, kalau begitu atasan saja yang buat, sehingga pasti sesuai kemauannya. Seorang pemimpin yang baik akan mendelegasikan pekerjaannya kepada bawahannya bukan mengerjakan semuanya sendirian, karena semakin tinggi jabatan seseorang maka kapasitas  tanggung jawab dan beban pekerjaannya lebih tinggi. Tetapi saya mengakui kalau penyampaiannya memang seperti menyuruh belum lagi beruntut. Satu pekerjaan belum selesai sudah diberikan lagi tugas lainnya.

Penolong yang Sepadan

 Sumber : Google Search

Dalam hal mencari pasangan hidup, saya lebih suka menggunakan kata mencari penolong yang sepadan. Alasannya karena menjadi penolong bukanlah hal yang mudah. Tidak ada manusia yang sempurna, karena itu kita perlu pertolongan dan dalam mencintai action yang utama adalah bagaimana kita dapat menolong pasangan kita bukannya minta ditolong. Kalau saling minta ditolong ya bagaimana jadinya, seharusnya saling menolong. Bukan meminta tetapi memberi.

Mana yang mendatangkan pujian, sang pacar yang selalu meminta dijemput diantar-antar ataukah pacar yang selalu mau mengantar dan menjemput tanpa diminta. Orang cenderung akan berkata pacar yang baik karena selalu mau antar-jemput. Lalu apa kamu mau pacarmu disebut pacar yang rese manja selalu minta diantar-jemput. Kalau memang tidak bisa antar-jemput jelaskan alasannya. Pacaran yang dewasa pasti akan saling mengerti, pacar bukanlah supir antar-jemput.

Mau pacar yang pengertian atau yang selalu minta dimengerti? Jadilah pengertian dulu sebelum minta dimengerti. Tapi perlu untuk terbuka dan menyampaikan isi hati, jangan main tebak-tebakan. Tidak ada seorangpun yang bisa membaca pikiran dan menebak isi hati manusia. Peramal saja tidak akan selalu benar menebak, kecuali kamu memang memiliki kekuatan indra keenam dan sebagainya.

Saya punya cerita ketika sedang mengerjakan tugas didepan laptop dan saya mengeluh tetapi respon dua teman saya berbeda. Mungkin bisa menjadi contoh penolong yang sepadan.

Saya             : "Ini gimana sih? Susah amat, ga ngerti."
Teman 1       : "Udah kirimin aja ke email gue ntar gue yang kerjain."
Teman 2       : "Kerjain dulu aja sebisanya, yang ga ngerti tanya gue."

Sebagian orang memilih jalan pintas dan menyukai teman 1, tapi buat saya poin plus buat teman 2. Buat saya teman 2 lah yang merupakan penolong yang sepadan. Dia tahu saya mampu hanya sedang butuh dukungan, sedang moody, sedang mumet, sedang lelah, sedang malas dan bosan berkutat dengan tugas tersebut. Pada akhirnya saya menyelesaikan tugas tersebut sendiri. Intinya saya memerlukan waktu yang lama untuk mencerna bagaimana cara mengerjakan tugas tersebut bukan tidak bisa sama sekali. Kalaupun sudah mentok dan saya minta bantuan diajarkan oleh teman 2 sampai mengerti. Sedangkan teman 1 hanya akan memberikan saya jawaban tanpa menjelaskan sehingga ketika menemui masalah yang sama saya harus mencari teman 1 lagi. 

Baik teman 1 dan teman 2 keduanya bermaksud baik dan ingin menolong. Tetapi caranya berbeda. Jujur saja saya ada menaruh hati pada teman 2. Dia mungkin penolong yang sepadan untuk saya, Namun sayangnya, sayalah yang bukan penolong yang sepadan baginya. HAHAHAHA (menertawakan diri sendiri, tapi saya sadar)

Banyak orang yang datang dan pergi dalam setiap kehidupan. Saya sendiri mungkin juga beberapa kali dianggap penolong yang sepadan untuk seseorang. Tetapi mereka bukan penolong yang sepadan untuk saya. Alasannya karena ekspekasi mereka yang terlalu tinggi pada saya. Terlalu melebih-lebihkan dan akhirnya mereka kecewa sendiri saat tahu saya yang sebenarnya dan mereka tak mampu menolong saya.

Endingnya jadi curhat deh, diakhiri saja ya sebelum jadi bergalau-galau ria. Terimakasih sudah membaca.


Baca juga  : https://la-lilyofthevalley.blogspot.co.id/2018/01/terjepit-diantara-dua-pilihan.html
P .s :

Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

Minggu, 14 Januari 2018

Rain and Tears


Lagu Rain and Tears


Courtesy Youtube

Saya sering sekali mendengar lagu-lagu lama atau golden memory milik papa sampai terkadang hafal liriknya. Dan lagu ini salah satu lagu sendu yang saya suka. Untuk yang belum pernah mendengar bisa dengarkan dulu ya.

Judul : Rain and Tears (Hujan Dan Air Mata)
Penyanyi : Demis Roussos


EnglishIndonesia
Rain and tears are the same
But in the sun you've got to play the game
When you cry in winter time
You can pretend it's nothing but the rain

How many times I've seen
Tears coming from your blue eyes
Rain and tears are the same
But in the sun you've got to play the game

Give me an uncertain love
I need an uncertain love

Rain and tears in the sun
But in your heart you feel the rainbow waves

Rain or tears both are shown
For in my heart there'll never be a sun
Rain and tears are the same
But in the sun you've got to play the game
Hujan dan air mata itu sama
Tapi di bawah matahari kau harus memainkan permainan
Ketika kau menangis di musim dingin
Kau bisa berpura-pura itu bukan apa-apa selain hujan

Berapa kali aku banyak melihat
Air mata keluar dari mata birumu
Hujan dan air mata itu sama
Tapi di bawah matahari kau harus memainkan permainan

Berikan aku sebuah cinta yang tidak menentu
Aku membutuhkan sebuah cinta yang tidak menentu

Hujan dan air mata di bawah matahari
Tapi di dalam hatimu kau merasakan gelombang pelangi

Hujan atau air mata keduanya itu tampak
Karena di dalam hatiku tidak akan pernah ada sebuah matahari
Hujan dan air mata itu sama
Tapi di bawah matahari kau harus memainkan permainan

 Diambil dari http://lirikterjemahan.blogspot.co.id/2016/04/demis-roussos-rain-and-tears.html

My Story

Ketika hari hujan dan mau pergi, apa yg biasanya dilakukan? 

Tidak jadi pergi? 

Membawa payung? 

Atau koran pun jadi asal menutupi kepala.

Kita mencoba mencari sesuatu kan, untuk MELINDUNGI DIRI supaya tidak kehujanan, tidak basah.☔ 
Sekalipun sudah memakai payung dan jas hujan, bukankah HUJAN TETAP TURUN? 
Itu faktanya dan payung tetap tak merubah cuaca, hanya melindungi kita.🌧️⛈️ 
     Dokumentasi pribadi hasil karya penulis

Saat turun hujan dalam kehidupan, akupun bersiap dengan payung dan segala yg kumiliki.
Menahan agar tidak menangis, untuk tidak terlihat lemah. Rain and tears.
Untuk segala hal, aku sudah terbiasa bilang 'ga apa apa' padahal 'ada apa apa' ,
'iya oke' yg sebenernya 'ga mau' , 'ga masalah koq' padahal 'memang bermasalah' .
Selalu mencoba melihat hal baiknya, mengulang-ulang dan bilang pada diri sendiri : 
bersyukur loh kan begini dan begitu, untung banget dan kalimat-kalimat positif lainnya.

Dan, hari ini mencapai limitnya~ apa aku benar2 bersyukur?? Tidak.

Aku hanya MENGHIBUR DIRI, MEMBOHONGI & MENIPU DIRI SENDIRI. 
Aku tidak mengakui kalau aku terluka, aku mengatakan sebaliknya. 
SAKIT tapi aku bilang TIDAK SAKIT, jadi luka nya tidak diobati karna aku merasa baik-baik saja.

Orang2 yang merasa mengerti, ngerti dengan melebih-lebihkannya, inginnya mengobati tapi
memperparah lukaku, mau menguatkan malah rasanya nambahin kebohongan untuk lebih menipu diri lagi sih ya.
Lalu minta upah dengan menuntut ini dan itu, merasa dirinya berjasa.

Makasih loh niat baiknya kuterima tapi kebaikan yg diberi itu tidak baik buatku, kaya obat yg tidak tepat,
tidak cocok malah tidak sembuh-sembuh dan jadi tambah sakit kan. Seperti saya itu alergi debu dan bulu
binatang tetapi saya merasa tidak merasa alergi, dan tetap bermain dengan hewan peliharaan, lalu ketika saya
bersin-bersin diberi obat pilek. Tetap saja tidak sembuh karena penyakit nya bukanlah infuenza. (Hanya contoh,
tetapi saya memang benar alergi kedua hal tersebut)

Banyak sekali dukungan dan orang-orang yang peduli pada saya. Untuk itu saya sangat bersyukur dan
berterimakasih, hanya saja ada masanya karena terlalu banyak maka saya merasa lelah dan terganggu.
Saya sangat sangat menghargai ketulusan dan kepedulian dari setiap orang, namun satu hal yang membuat
saya lelah karena TIDAK SEMUA ORANG TULUS DAN PERDULI. Mengapa saya bisa bicara seperti itu?
Karena kita harus bisa membedakan mana perhatian yang tulus dan mana perhatian KEPO. Perhatian yang KEPO
pun terlihat dan terasa tulus, tetapi dasarnya bukanlah 'kasih' melainkan hanya 'penasaran'. Yang mengasihi
adakan melakukan action sedangkan penasaran hanya bertanya. Memang ada kala nya yang bertanya pun tidak
tahu harus merespon apa sehingga bingung bagaimana ingin membantu. Saya tidak ingin mengeneralisasi akan
sesuatu karena banyak kemungkinan.

Hal yang saat ini paling kurang saya sukai adalah ketika orang-orang mengatakan "Kamu bisa,
kamu kuat". Strong girl istilahnya. Mungkin itu memotivasi ya, sebuah kalimat positif. Tetapi apa jadinya kalau
saya sudah berusaha mati-matian tetap menemui kendala dan semua orang mengatakan hal tersebut, lelah.
Rasanya kalimat positif itu berubah menjadi tekanan, sebuah tuntutan. AKu tidak sekuat itu dan akupun
memiliki banyak kelemahan. Beruntungnya diriku ini, meskipun hanya sedikit, tapi kehadiran orang yang
mengatakan "Kamu bisa, coba dulu, kalau memang tidak bisa biar kubantu", "Kamu tidak harus
menghadapinya sendiri, kalau ada apa-apa kasih tahu","Kamu berusaha terlalu keras,
coba istirahat dulu, pelan-pelan saja". Orang-orang seperti ini sangat jarang. Biasanya mereka
adalah orang-orang yang jauh. Karena orang-orang yang dekat denganku melihat diriku yang tampak
baik-baik saja, sedangkan yang jauh mungkin merasakan jeritan yang tidak terdengar, efek gema mungkin ya.

Kalau aku lebih jujur dan terbuka lagi, apakah semua orang bisa melihat diriku apa adanya bukan ada
apa-apanya? Saat ini perasaanku sedang hujan, tetapi saat nanti matahari muncul, mungkin aku harus kembali
memainkan peran strong girlRain and tears are the same, But in the sun you've got to play the game. 


P .s :

Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

Kamis, 11 Januari 2018

Aku dan Langit


Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya.--- Mazmur 19:2


No filter needed ❣️🌆

Selalu suka sama caranya Tuhan untuk menghiburku. Dikasih langit begini langsung melting deh, mengeluh pun lupa, capai, beban, sampai mood langsung membaik seketika. Bersyukur dan terharu. Tuhan kasih mata buat melihat banyak hal indah, dan mata itu menurutku adalah lensa terbaik! ðŸ“·
Karena mau pake kamera dengan lensa sebaik apapun juga tetep tidak seindah 'melihat dengan mata kepala sendiri'. Tidak perlu untuk mengatur ISO atau memilih-milih filter sudah cukup yang di depan mata, warnanya itu indah. Dari semua foto ini tetap indah aslinya. Semuanya difoto menggunakan hp xiaomi 4s. Hp loh bukan kamera.

Harus liburan? Tidak juga, ini dijepret ketika sedang bermacet-macet ria, ribut ingin ngambil hp yang disimpan dalam tas karena ingin memotret tetapi dalam posisi supir yang nyetir sampai ditegur papaku. Ada juga foto yang kupotret ketika jalan kaki juga.

Bersyukur itu tidak mudah, mungkin baru puas kalau dapat tas branded, bisa membeli mobil, bisa memiliki gadget terbaru dan hal-hal 'wah' lainnya. 

SO KAPAN TERAKHIR KALI MELIHAT LANGIT??

Jangan cuma liat ketika mendung dan mendumel 'Yah kayany bakal hujan, ga bawa payung, yah repot blablabla'
Pas lagi cerah langit biru bersih tidak pernah dilirik.

Papaku juga ngomong 'Ngapain si kamu, kurang kerjaan, langit doang juga, cari duit blablabla...*wejangan-wejangan'. 

Makasih pa, tapi anakmu ini mungkin memang terlalu gampangan, cuma karna langit aja aku lebih bahagia dibanding makan steak ato sushi. Enak sih, mahal juga iya tp cuma dimakan kenyang ya sudah. Malah indomie lebih bikin ketagihan, kecium wanginya saja langsung laper dan baper. 

Langit seperti ini tidak akan ditemukan yang sama untuk kedua kali. Alam itu super duper deh nyeninya dan penciptanya itu pelukis handal. SALUT!

"Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi." --- Mazmur 124 : 8

Lalu mencoba melukis langit yang indah tapi tidak berhasil, sejadinya saja dan menulis ayat favorit : 


'Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.' --- AMSAL 23 : 18


Jadi motivasi loh, tiap liat langit kaya diingetin dan dikuatin sama ayat ini. 

Semoga memberkati. 

LA

Senin, 08 Januari 2018

Terjepit Diantara Dua Pilihan


Pilih yang ini salah, pilih yang itu pun salah. 

Jadi harus bagaimana??

Sumber : Google Search

Pernahkah kalian bertemu orang yang tidak bisa mengambil keputusan? Sering kali lamban dan plin-plan dalam memutuskan sesuatu? Dalam kehidupan tentunya ada banyak sekali pilihan yang akan muncul dan mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Keputusan mana yang harus dipilih? Tentu saja ada baik dan buruknya karna setiap keputusan yang kita ambil ada konsekuensi dan hasil yang berbeda didalamnya. 

Misalnya kita bingung membeli baju warna merah atau biru. Apabila kita tak bisa memutuskan karna menyukai keduanya dan berakhir membeli keduanya, menurut saya itupun kurang baik. Bukankah menjadi pemborosan, apakah kita benar-benar perlu dua baju dengan model yang sama. Sama halnya ketika kita tak bisa memutuskan menu makanan yang akan kita pesan, apakah akan berakhir dengan memesan keduanya?

Saat berada dalam persimpangan dan harus memilih sering kali kita meminta bantuan orang lain untuk membantu memutuskan. Disinilah permasalahan yang sering terjadi. Masukan-masukan dari orang lain bisa kita gunakan sebagai bahan pertimbangan, bukan menjadi penentu mutlak. Jika terlalu bergantung pada keputusan orang lain nantinya kita akan apatis dan tak memiliki keberanian untuk memilih. Dengarkanlah masukan orang lain karena mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda yang mungkin membantu kita dengan pemikiran yang lebih luas. Tetapi perlu diingat bahwa keputusan ada di tangan kita bukan orang lain. Jadi apapun yang terjadi nantinya kita tidak akan menyesal dan menyalahkan orang lain.

Berbagi kisah pribadi yang mungkin bisa menjadi pembelajaran bagi dunia parenting. Setiap anak belajar dari keluarga bukan, karakter dan kebiasaannya dibentuk oleh lingkungan yang terdekatnya. Saya sendiri sering kali merasa sulit untuk mengambil keputusan. Setelah lama sekali plinplan akhirnya memutuskan sesuatu dan akhirnya akan menyesal mengapa tidak memilih pilihan yang satunya. Dan selalu bersikap netral atau golput (golongan putih : tidak menggunakan hak suaranya untuk memilih). Selidik punya selidik ternyata terbentuk karena kedua orangtua saya.

Sedari kecil saya selalu harus memilih mama atau papa. Saya papa berkata ya, mama berkata tidak. Saat papa berkata tidak, mama berkata boleh. Bukankah itu membingungkan seorang anak? Sehingga saya mengambil kesimpulan kalau melakukan ini bersama papa boleh sedangkan ini tidak akan saya lakukan di depan mama. Banyak sekali hal yang membuat saya bingung. Mana yang benar? Perkataan papa atau mama yang harus saya turuti.

Ketika saya sudah bisa menyetir, sering kali terjadi percekcokan di perjalanan. Papa berkata belok kanan dan mama meminta saya belok kiri. Jika saya mengikuti papa, lalu terjebak macet maka mama akan menyalahkan saya tidak mendengarkan beliau. Begitu sebaliknya. Karena saya bandel, terkadang saya memilih lurus saja dan nantinya diomeli oleh keduanya. Tapi perasaan dimarahi keduanya lebih mending daripada mengecewakan salah satunya.

Saya pun pernah ditegur untuk bisa memutuskan sendiri tanpa harus bertanya pada mereka. Tetapi itu pun saya dimarahi karena keputusan saja. Kisahnya ketika memesan tiket pesawat, sebelum memilihpun saya sudah bisa menebak skenario apa yang akan terjadi.

  • Skenario A : Pasti akan diomeli karena memilih penerbangan pukul 8.00 pagi hanya karna harganya yang murah. Karena 2 jam sebelum penerbangan kami sudah harus tiba di airport belum lagi perjalanan tentunya harus bangun jam-jam subuh. Saya akan dibilang pelit.
  • Skenario B : Pasti akan dimarahi karena memilih harga lebih mahal dan penerbangan yang "terlalu siang" pukul 11.00 . Saya akan dibilang boros tidak bisa berhemat.

Dengan pertimbangan saya malas bangun pagi dan nantinya sulit mencari transport ke bandara pagi-pagi, maka dipilihlah skenario B. Dan terjadilah sesuai yang sudah saya perkirakan. Jadi mungkin yang diinginkan adalah harga murah dan penerbangan sekitar pukul 10 pagi, hmm mungkin saya perlu memiliki perusahaan penerbangan sendiri agar tidak kena omelan.

Memilih penginapan pun sama, ingin yang ada toilet di dalam dengan konsekuensi tentunya harganya lebih mahal dibanding yang toilet di luar. Lalu kamar harus yang ada jendela karena ada AC saja tidak cukup untuk sirkulasi udara yang baik. Saya berhasil menemukan sesuai kriteria diatas lalu apa omelannya? Feng shui-nya kurang bagus karena letak kamarnya yang berhadapan dengan jalan. Oaaalah, ingin rasanya mengaruk-garuk tembok atau menggigit lemari. Kalau sudah seperti itu, saya ingin menyerahkan tanggung jawab untuk memilih pada yang bersangkutan saja sehingga saya tidak akan disalahkan. 

Kisah saya tersebut mungkin saja bisa menjadi contoh mengapa ada orang-orang yang sulit membuat keputusan. Kita tidak tahu apa pengalaman dan bahan pertimbangan orang tersebut karena mungkin dampak yang dirasakan si pembuat  keputusan berbeda dengan apa yang kita kira. Saran saya untuk yang sering bingung membeli sesuatu karna warnanya, cobalah melihat segi lainnya. Seperti warna apa yang lebih sedikit anda miliki. Kecocokan dengan warna kulit, mana yang terlihat lebih segar atau manis untuk anda. Lalu akan dipadupadankan dengan apa bawahannya, tas atau sepatu. Begitupula jika memesan makanan, anda bisa memutukan berdasarkan analisa singkat mengenai harga, bahannya, dan bisa berfikir untuk mencoba menu satunya dikedatangan yang berikutnya.

Bagi yang sudah berkeluarga maupun belum, usahakan untuk sepaham dalam mendidik anak, agar sang anak tidak kebingungan dan nantinya sulit membuat keputusan untuk hal-hal yang sifatnya mungkin sepele. Di masa depannya, akan banyak pilihan-pilihan yang harus dibuat, jadi berilah kepercayaan bagi sang anak untuk dapat memilih. Juga melatihnya untuk berani bertanggungjawab dan menanggung konsekuensi atas pilihannya tersebut. Konsekuensi itu tidak selalu buruk bisa juga hal baik, yang diperlukan adalah dukungan dan pengertian mengapa keputusan itu yang diambil bukan pilihan yang lainnya.

Jika anda sedang berada diposisi terjepit diantara dua pilihan, cobalah untuk memilih salah satunya. Pilih yang menurut anda lebih sedikit resikonya. Ingat, kedua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tidak ada pilihan yang lebih benar, karena kalau ada anda tidak akan bingung memilih. Jika harus memilih kebenaran atau yang bukan, kembali lagi pada anda. Tetapi yang benar umumnya benar, jika kita memilih yang salah maka akan salah dan nantinya percaya atau tidak anda akan kembali ke titik yang sama untuk dibelokan ke arah yang benar. Bila anda mampu membuat pilihan ketiga yang lebih baik, bisa dicoba namun perlu diingat pilihan ketiga bukanlah lari (tidak memutuskan). Saat anda memilih lari, maka dua pilihan itu akan tetap mengejar anda untuk dipilih.


Terimakasih sudah membaca. Salam LA :)

Baca juga https://la-lilyofthevalley.blogspot.co.id/2018/01/tahun-baru-resolusi-baru-apa-kabar.html

P .s :
Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

Selasa, 02 Januari 2018

Tahun Baru, Resolusi Baru? Apa kabar resolusi tahun lalu?




Selamat Tahun Baru, semua! Berbicara soal tahun baru, tentunya banyak hal-hal baru yang menunggu kita di tahun yang baru ini. Mungkin ada target-target yang belum tercapai di tahun sebelumnya dan ingin dilanjutkan di tahun ini. Saat tahun baru biasanya kita merenungkan apa yang telah kita lalui selama setahun. Perayaan tahun baru pun diwarnai dengan euforia kegembiraan lainnya.

Hidup Kita dan Kembang Api 


Saya pribadi lebih menyukai melihat kembang api dibandingkan aktivitas meniup terompet bahkan terkadang terganggu dengan bisingnya suara terompet. Saat melihat kembang api ada dua pemikiran yang terlintas. Pertama, sebagai lulusan jurusan ekonomi atau mungkin pada dasarnya saya pelit, saya menghitung-hitung cost yang dihabiskan seluruh umat manusia diatas bumi ini. Coba bayangkan saja, dalam satu kota ada berapa titik pesta kembang api? Rata-rata hotel dan pusat perbelanjaan mengadakannya untuk menarik jumlah pengunjung ditambah dengan perorangan. Dalam waktu singkat sekitar 15 menit ada berapa banyak "uang yang dibakar" dalam arti uang yang digunakan untuk membeli kembang api.
Kedua, dalam hidup kita pun seringkali menemukan kembang api - kembang api. Terlihat indah dan cantik tapi hanya dalam waktu yang singkat. Kebahagiaan itu seperti itu, mungkin saat ini kita senang tapi beberapa menit kemudian kesenangan itu hilang. Hari berganti hari dan semangat pun kian meredup,

Kembang api telah mekar di langit, tahun yang lalu sudah berakhir dengan segala hal-hal baik suka maupun duka tapi tetap harus kita syukuri. Banggalah karna anda sudah berhasil melewatinya. Dan sekarang di awal tahun kita sedang meluncurkan kembang api baru yang kita tak tahu akan mekar seindah apa, selama apa dan sebanyak apakah dia.

Resolusi 

Setiap awal tahun selain merefleksikan setahun ke belakang tentunya akan banyak yang bertanya apa resolusi tahun ini. Berdasarkan pengalaman resolusi itu seperti target atau harapan yang ingin dicapai dan rata-rata saya gagal melakukannya. Bukan karna resolusi saya yang mengada-ada dan memiliki standar tinggi untuk dicapai, melainkan resolusi saya kurang jelas. Contohnya salah satu resolusi saya di tahun lalu adalah memperbaiki jam tidur. Dan tentunya mutlak gagal saya lakukan karena itu hanyalah keinginan saja, tetapi praktek itu sulit karena ada berbagai hal dan kebiasaan insomnia tentunya tak mudah dirubah. Pola hidup dan aktivitas saya harus dirubah demi mewujudkan jam tidur yang baik, namun saya tak mampu merubahnya karena menyangkut orang lain dan lingkungan sekitar.
Resolusinya ingin punya usaha, tapi modalnya tak ada belum lagi ide bisnis saja tak cukup perlu kenekatan untuk mewujudkannya. Buat saya pribadi kendalanya adalah waktu dan dukungan orangtua. Bagaimana mau memulai kalau ide-ide saya selalu dibilang tidak akan berhasil dan lain sebagainya. Mungkin memang benar mereka lebih berpengalaman dari saya da memberi nasihat yang baik, namun terkadang orang tua tidak ingin anaknya terjatuh sehingga tidak mengizinkan sang anak belajar berjalan. Banyak orang-orang sukses yang saya tahu dahulunya bermodal nekat bahkan melawan orang tuanya, dan sekarang ketika berhasil sang orangtua bangga sekali. Bayangkan kalau ketika pada masa itu sang ortu juga mendukung, tapi ya memang dalam hidup tidak ada yang mudah mulus dan lancar sih. Manusia itu berkembang ketika dalam tekanan dan menjadi malas ketika tidak ada yang menekan.

Resolusi saya di tahun ini saya ambil dari 1 Tesalonika 5 : 17 ; "Tetaplah Berdoa." 

Ayat yang sangat singkat tapi ini sulit dilakukan. Berdoa itu adalah hal yang universal, semua orang bisa melakukannya menurut kepercayaannya masing-masing. Berdoa itu bukanlah hal yang mudah. Terkadang kita lupa dan menyepelekannya. Doa yang menjadi rutinitas pun kadang berubah jadi seperti hafalan saja. Kalau saya terkadang tak ingin berdoa karena akan menangis tersedu-sedu. Merasa saya masih mampu menjalaninya tanpa perlu ngadu pada Tuhan. Kalau digambarkan itu seperti saya sedang curhat pada orang yang saya percayai, Kita akan terlihat baik-baik saja didepan semua orang bukan? Tapi didepan orang yang anda percayai, segala permasalahan atau hal-hal kecil pun bisa menjadi curhatan. 

Untuk kasus saya sih, saya jarang sekali mengeluh, emosi pun bisa ditahan dan kesabaran yang terkadang tidak jelas batasannya, tapi pada pribadi yang saya percayai keluarlah itu semua. Hanya sedikit orang yang tahu diri saya yang ini dan beberapa dari mereka malah menjauh dan merasa kalau saya ini hanya tukang mengeluh, padahal saya tak mengeluh pada siapapun hanya padanya. Kasihan sih sebenarnya, karena orang tersebut seperti tong sampah tempat saya membuang keluh dan kesah, tapi percayalah kalau orang ini adalah orang yang special bagi saya kalau tidak ya mana mungkin saya melakukan hal tersebut. Dan manusia itu mengecewakan tetapi Tuhan tidak. Dia bahkan tau keluhan dan permasalahan yang saya hadapi. Itulah sebabnya, ketika mau berdoa. Sebelum kata-kata terucap tangis saya sudah pecah duluan, seakan-akan Tuhan berkata "Ya, Aku tahu, Aku mengerti". Kalau sudah menangis seperti itu mata saya akan bengkak belum lagi pada saat menangis orang disekitar saya akan menanyakan kenapa. Sulit mencari tempat dimana saya bisa menangis dan tidak ditanya-tanya. Jadi ketika berdoa kadang saya harus mencari tempat dan waktu yang tepat jadi seringkali berdoa sekedar menyapa Tuhan tanpa ada keintiman, sekedar rutinitas dan kadang terlupakan. 

JADI RESOLUSI TAHUN INI ADALAH TETAPLAH BERDOA. Sekalipun susah, senang, atau tidak keduanya saya ingin tetap berdoa.


Happy new year!! Semangat menyambut tahun yang baru.

Baca juga https://la-lilyofthevalley.blogspot.co.id/2017/12/greetings-from-lily-of-valley.html

P .s :
Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

Mengeluh karena Sebal

Hal yang Mengganggu "Kenapa sih? Nyebelin deh!" "Ih..Sebel bgt deh" "Dasar annoying" Mungkin ki...