Sabtu, 17 Maret 2018

Bagai Mendapatkan Durian Runtuh

Akhir-akhir ini sedang musim buah durian. Penjual durian jaman sekarang pun sudah canggih, mereka menjual secara online dan dikirim melalui jasa pengiriman ke rumah. Durian yang ditawarkan pun sudah tanpa kulit dan dipacking dengan baik serta ada jaminan manis dan biji kecil. Berhubung papaku pecinta durian maka dibelilah. Meskipun durian itu membuat kolesterol dan kadar gula darahnya naik tapi orangnya santai. Sebelum lanjut bercerita, saya ingin membahas tentang manfaat dan bahaya durian.

Chinatown - Kuala Lumpur

Manfaat buah durian :

Meredakan stress dan depresi karena ada efek penenang
Mengandung vitamin C yang baik bagi kesehatan kulit serta meningkatkan imunitas tubuh
Tinggi lemak dan kalori sehingga mengenyangkan
Mengandung zat yang baik bagi gigi, tulang, dan persendiaan
Mengatasi anemia dan membantu regenerasi sel darah

Bahaya jika dikonsumsi berlebih :

Mengandung kolesterol yang dapat mempengaruhi kesehatan jantung
Menyebabkan masalah pencernaan karena mengandung gas
Menaikan kadar gula darah karena rasanya yang manis (diabetes)

*)Dikutip dari berbagai sumber


Macam- macam Durian  (yang saya tahu :p)


Durian Udang Merah, Musang King, Durian D24
Selain itu durian juga ada banyak macamnya. Kalau di Indo mungkin kita sering dengar Durian Bangkok dan yang paling mahal Durian MUSANG KING. Jadi teringat waktu itu mencoba macam-macam durian ketika berada di China Town, Kuala Lumpur. Ada 3 jenis durian yang dijual pada saat itu : Durian d24 , Durian Musang King, Durian Udang Merah. Di gambar bawah musang king harganya seharusnya mahal, namun karena kualitasnya kurang (sudah lembek, sedikit berair, tapi masih enak) maka diberi potongan harga oleh penjual.
Dari kiri ke kanan : Durian Udang Merah, Musang King, Durian D24


Bagai Mendapatkan Durian Runtuh


Istilah ini agak menarik buat saya. Saya sering berfikir kenapa kalau dapat durian runtuh itu malah rejeki ya? Bukannya durian itu berduri dan kalau terkena durian jatuh pastinya sakit bisa terluka dan berdarah. Menurut KBBI, arti dari peribahasa "Bagai Mendapatkan Durian Runtuh" adalah mendapatkan keuntungan yang tidak disangka-sangka tanpa bersusah payah.

Setelahnya saya mengerti kenapa dibilang bagai mendapatkan durian jatuh. Mungkin saat mendapat durian jatuh. Pemikiran pertama mungkin seperti saya, durian itu berduri dan kalau kejatuhan pasti sakit, tapi UNTUNG ga kena hanya menemukan durian yang sudah jatuh. Lalu bisa juga karena mendapat durian tanpa perlu bersusah-susah memanjat pohon.


Menurut saya mendapat durian runtuh itu tidaklah harus hal besar, seperti memenangkan undian berhadiah. Banyak sekali berkat yang dirasakan setiap hari yang tidak disangka tanpa bersusah payah. Salah satu contohnya adalah dapat tempat parkir. Ya! Dapat tempat parkir itu bagai mendapat durian runtuh loh. Coba bayangkan anda sedang memasuki suatu mall pada akhir pekan. Mobil depan dan belakang kita yang baru masuk sama-sama mencari parkir. Eeeh, mendadak ada mobil yang keluar tepat dekat kita. Mobil di depan kita yang juga mencari parkir sudah lewat, sehingga kita yang masuk. Menurut saya itu keberuntungan.


Kalau bicara tentang duriannya lagi jadi teringat dengan kata "Don't judge book by its cover". Jangan hanya melihat luarnya saja. Durian dari luar memang terlihat berduri, belum lagi baunya yang menyengat. Tetapi lihat dalamnya, manis gempal dan enak. Harga durian juga mahal bukan? Dan ketika beli durian ditimbang sama kulit-kulitnya. Durian yang jatuh artinya durian yang berkualitas karena matang di pohon.

Dalam melihat problem masalah hidup juga seperti itu. Masalah kita terlihat seperti durian, berduri dan bisa melukai kita. Buah durian juga berat dan mesti hati-hati kalau membawanya. Baunya pun menyengat membuat pusing. Tetapi ada buah dalamnya yang ternyata baik ya, enak ya. Dan kalau memang kita mau hasilnya itu semuanya sepaket dengan kulitnya.


Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. --- Roma 8 : 28

Siapkah kita mendapat durian runtuh?


P .s :
Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

Jumat, 02 Maret 2018

Kado Ulang Tahun


Banyak yang bilang mencari kado ulang tahun untuk saya itu sulit sekali. Tidak tahu butuhnya apa dan sukanya apa. Misterius. Kalau ditanya ingin kado apa juga kadang saya jawab apa saja boleh, karena saya tidak tahu apa yang saya mau juga sih. Kebutuhan pokok saya sudah terpenuhi orang tua. Kalau saya perlu sesuatu juga bisa beli sendiri. Belanja sepatu, tas , baju juga jarang. Pengeluaran terbesar saya itu makan. Hahaha. Untuk hal makan memang saya termasuk lemah. Gampang sekali keluar uangnya, lapar mata untuk makanan. Karena prinsip hidup saya itu :

"Hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup"

Karena suka sekali makan, suka sekali mencoba makanan jenis baru, kalaupun mahal jadi sekali saja. Yang penting pernah nyoba, lagipula ga selalu yang mahal itu enak. Nasi rames padang itu nikmat sekali, jajanan pinggir jalan juga banyak yang enak. Lumpiah basah, gorengan, cimol cilok, dll. Indomie juga wanginya menggoda sekali. Lalu kesukaan saya pisang gepeng keju coklat susu, yang lebih terasa topping nya dibanding pisangnya itu sendiri.

Balik lagi soal kado, banyak barang yang saya inginkan dan bisa saya beli, tapi ga dibeli. Alasannya mikir-mikir dulu kelamaan sampai akhirnya ga ingin lagi. Merasa sayang uangnya mending untuk hal lain, atau karena makna nya beda. Contohnya boneka pucca ini :


Koleksi pribadi
Saya sudah ngeceng dari lama, kalau mau beli bisa sih sekitar 300 kuai kalau tidak salah ingat. Tapi sayang uangnya dan kupikir nyempitin kamar, nantinya rebutan ranjang. Ketika dapet sebagai kado ulang tahun dari teman-teman 3舍, girangnya bukan main dan rasanya berkesan karena kado pemberian. Boneka pucca ini jadi lebih berharga.

Beli kue ulang tahun sendiri bukanlah masalah, kalau versi ekstrimnya tentang makna itu seperti kartu ucapan ulang tahun. Lebih bermakna saat kita dikirim dan dituliskan oleh orang lain dibanding menulis sendiri kan. Jelas kita bisa membeli kartu ucapan ulang tahun sendiri, tetapi maknanya beda ketika diperuntukkan untuk diri sendiri. Nulis sendiri lalu buat diri sendiri, sedih amat ya.

Salah satu bahasa kasihku pemberian. Tentunya tahu kan 5 bahasa kasih? Buat yang belum tahu mari kujelaskan.

Menurut Gary Chapman ada 5 bahasa kasih :
  1. Word of Affirmation : Kata-kata motivasi dan pujian
  2. Quality Time : Waktu yang berkualitas
  3. Receiving gifts : Pemberian sebagai bentuk kasih
  4. Acts of Service : Senang membantu, merasa diandalkan
  5. Physical Touch : Sentuhan sebagai bentuk perhatian
Untuk saat ini, bahasa kasih yang kuberikan ke orang lain adalah nomor 3 dan 4. Sedangkan bahasa kasih yang senang kuterima adalah nomor 1 dan 2. Buat nomor 5 itu kurang tepat buatku, karena kurang suka aja.

Setiap berpergian, saya suka sekali membeli oleh-oleh dan membagikannya pada teman. Begitupun sebaliknya, senang rasanya menerima oleh-oleh dari orang lain. Saya belum pernah ke Canada, Australia, ataupun Korea tetapi untuk oleh-oleh saya sering dapat dari negara tersebut. Itu menjadi penghiburan tersendiri buat saya. 

Kado ulang tahun ke 24


Ini adalah kado ulang tahun ke 24 untuk diri saya sendiri, kamera panasonic lumix gf8. Saya beli ketika di Singapura. Tepat pada hari ulang tahun ke 24, saya berada di Singapura. Pagi kurang lebih setengah 9 berangkat dari airport Bandung menuju Singapura. Keren kan? Hehehe. Saya tidak merayakan ulangtahun dengan lilin dan kue. 
 Persimpangan Farrer Park-Little India, Singapura
Setelah mendarat di Singapura, saya mengantar mama ke rumah sakit untuk radiasi kemo. Selesai radiasi, kami minum air kelapa karena baik buat mama. Itulah kue ulang tahun saya. Sedotan dan kelapa.


Kado ulang tahun ke 25

Ulang tahun ke 25 tahun, artinya saya sudah seperempat abad bernafas dan hadir di bumi. Tepat pada hari ulang tahun ke 25, saya terbang dari Penang, Malaysia transit di Medan dan tiba di Bandung. Luar biasa bukan? Mirip mengulang kisah tahun lalu-nya. Hahaha. Masih mengantar berobat. Kali ini papa yang saya antar ke rumah sakit di Penang untuk operasi jantung. Jadi berhubung di luar negeri ceritanya, saya membeli hadiah ultah buat diri sendiri lagi. Kado ulang tahun ke 25 saya membeli lipstik, jujur saja dibeli karena ada puccanya. Saya beli hanya 1 buah karena harganya pun 89 ringgit. 

Gurney Plaza - Penang. Malaysia

Setiap ulang tahun, hp ku berdering dan bergetar terus, banyak ucapan dari teman-teman, kenalan dan saudara. Senang sekali rasanya, meskipun batere tersedot tetapi hpku ga sepi. Rasanya senang dapat perhatian dari banyak orang. Yang biasa udah lama tidak chat kita jadi ngobrol banyak sampai hari-hari besoknya. Itu juga jadi kado tersendiri buatku.


Tahun ini kira-kira kado ulang tahunku apa ya? Belum terpikir sama sekali. Dan dimanakah aku akan merayakan ultahku lagi? Hahaha. Itu pun misteri. Biar waktu yang menjawab.









Mentalitas Korban


Sumber: Google Search
Beberapa hari belakangan ini, saya merasa terganggu oleh chat seseorang. Sesuai judulnya mentalitas korban, sang peneror ini menjadikan saya seorang antagonis dan merasa dirinya adalah korban. Begini ceritanya :

Saya pernah berteman dengan seorang perempuan sebut saja si A. Dibilang dekat sekali tidak juga hanya sebatas beberapakali makan bersama dan hanya membicarakan seputar tugas. Di tempat itu pula ada satu orang pria sebut saja si Z, sekedar tahu dan tidak pernah ngobrol dan lainnya.  Lalu, si A dan si Z ini pacaran. Sejak itu, saya tidak pernah berhubungan lagi dengan si A.

Mendadak saya menerima pesan Whatsapp dari si Z.
Z   : "Li, lu jadi pacar gue ya"
Me : "apa sih?"
Z   : "iya gue suka sama lu"
Me : *tidak membalas
Z   : "jadi pacar gue ya" "bla-bla" *spam chat

Menurut saya itu hal yang tidak wajar. Sempat berfikir mungkin dia putus dengan si A, mau balas dendam. Atau juga hanya mengerjai saya. Jujur, saya benci dan kurang suka sih diperlakukan seperti itu. Belum apa-apa dan ga kenal lantas mendadak bilang suka dan minta jadi pacar. Se-desperate itukah ingin punya status "pacar". Melenceng sedikit tetapi pernah kejadian serupa seperti ini terjadi. Seorang mengajak saya berpacaran dengan alasan "ya lumayankan, kalau jalan bawa lu kan ga malu-maluin". Dalam artian fisik saya tidak jelek mungkin ya, tapi sakit hati mah teteup wee. Ada ya orang seperti itu, menganggap saya seperti barang yang dibawa dan dipamerkan.

Balik lagi ke cerita awal, kebetulan saya ganti nomor jadi tentunya Whatsapp saya pun ganti. Setelah bertahun-tahun terlewat bahkan saya lupa ada makhluk seperti si Z itu, dia menchat saya lagi di Line apps. Dan bodohnya, saya bertanya "ini siapa?". Nama sebenarnya si Z itu pasaran jadi saya pun sempat berfikir teman yang lain. Kurang lebih seperti ini percakapan kami :
Z   : 
"Li, gue minta maaf ya";
"Gue melakukan kesalahan besar sama lu";
"Maafin gue" 
Me :
"Apaan sih"
Z   :
"Iya, gue salah sama lu. Selama ini si A ngejelekin lu jadi gue benci sama lu li"
Me :
"Emang apaan? Gw sama si A baik-baik saja"
*padahal memang sudah ga ada kontak dan seingat saya tidak pernah ada konflik apapun dengan si A
Z   :
"Iya pokoknya gitulah. Lu maafin kan ya. Lu tetep jadi temen gue"
Me :
"Ya udah, ngapain minta maaf. Lu salah apa gue ga tau juga"

bla-bla-bla
*akhirnya saya cuekin dan ga kontak lagi

Setelah beberapa tahun lewat, nah kemarin, dia hanya chat "Li" lalu "Li". Masih saya abaikan. Tetapi terus menerus, dan jujur saja lelah pengen berenti diganggu. Maksud hati memberi penjelasan supaya orangnya mengerti dan ga mengganggu lagi tetapi malah mental korbannya keluar.
Z   : *spam chat
Me : "knp?"
Z   : "Mau minta maaf sama lu, sama pengen temenan sama lu boleh ga. Kalau selama ini gue ada salah"
Me : "dejavu ya, lu chat kaya gtu berapa kali. Hobi bener minta maaf"
Z   : "Soalnya lu ga mau maafin gue sih. Sama ga pernah mau temenan sama gue"
Me : "ngapain mau temenan2" ; "kalo gw ga mau gmn"
Z   : "pengen aja temenan sama lu"; "Yah itu mah nasib li"
Me : "sebenernya dengan lu bilang mau temenan dan minta maaf dulu itu memojokan, bikin orang ga bisa menolak"

Bla-bla-bla

Z  : "lu udah punya pacar ya li";"udah punya cowo belum"; "emang alasan u apa sampe mau ngeblock line gue"
Me : "merasa terteror aja, gue merasa diteror"
Z   : 
"gue ga merasa neror lu, sama siapa?"
"gue uda bilang minta maaf"
"emang gue minta temenan sama minta maaf salah ya"
Me : "cari temen yang lain aja deh ya"
Z   : "gak mau, gue tetep pengen temenan sama lu. sama satu lagi, gue mau nembak lu"
Me : "GILA! jangan salahkan gue ngeblock ya"
Z   : "gue waras tau, maaf bikin salah, maaf bikin lu marah, bukan salah gue kalau suka sama lu tau, dari sebelum jadi sama si A gue udah suka sama lu, terus gue mau temenan sama lu masa ga boleh sih"
Me : "menyesal ngebales tadi, harusnya ga diwaro aja"
Z   : "sorry atuh, jangan ngomong gitu atuh, lu kenapa sih jadi marah sama gue"
Me  :"maaf aja kalau gue ga mau temenan sama lu, gue ga marah tapi mari diselesaikan saja, gue ga nyaman. Move on aja deh, kalau emang suka sama gue, ngerti dong kalau uda gue tolak berkali-kali"
Z   : "maaf gue ganggu hidup lu ya, gue gak akan mau move on dari lu...bla-bla-bla-bla..... karena jodoh itu di tangan Tuhan....blablablabla

*SUDAH SAYA BLOCK

Sumber: Google Search

Ada perasaan buang-buang waktu ngeladenin orang seperti itu. Tapi ada rasa bersalah juga, karena saya itu ga tegaan orangnya jadi ditega-tegain aja. Dari posisi dia, si Z sudah meminta maaf tetapi saya tidak memaafkan, tidak mengerti dia, jadinya dialah korbannya. Dengan maksud membuat saya merasa bersalah mangkanya dia seperti itu.

Cerita ini sebenarnya nyambung dengan beberapa peristiwa lainnya dalam hidup saya. Gimana ga makin sulit didekati ya, hahahaha... Saya cukup terkenal sombong, galak, jual mahal dll. Kalau dimodusin udah pasti cut off diawal karna saya ga mau dibilang PHP. Sebelum bilang orang lain mental korban, saya juga sudah merenungi dulu. Apakah saya juga memiliki mental korban?

Sumber: Google Search
Mungkin iya dan mungkin tidak. Justru saya sering menjadi korban maka dari itu saya ga tegaan dan peka terhadap orang yang memiliki mental korban. Jadi mungkin mereka tertarik pada saya karena menganggap saya bisa mengerti dan memahami kalau diposisi mereka. Tetapi saya tidak suka kalau dikasihani, saya tidak mau menjadi korban. Ketika jadi korban keadaan, biasanya saya melawan atau lari. Ingin lepas dan menyelesaikan konflik secepatnya. Seperti sekarang saya block orang itu jadi tidak lagi berlarut-larut dalam masalahnya. Jadi saya terus memperbaiki diri dan membuang jauh-jauh mental korban dalam diri ini.

Saya tidak suka kalau ditanya "lagi apa?", "lagi ngapain?", "udah makan belum?" dan saya parno kurang suka kalau ditelepon sebelum orangnya ngechat dulu dan bilang mau telepon. Bisa dibilang mungkin ada trauma tersendiri karena orang-orang yang suka neror ini. Ini bukan kejadian pertama. Sudah beberapa kali berurusan dengan orang-orang "aneh". 


Cerita Pertama


Si X ini memaksa seorang teman perempuan, supaya saya mengadd si X, sampai teman ini memohon-mohon dan menangis karena dia diteror si X. Akhirnya saya mengalah dan memang sudah curiga akan kejadian aneh-aneh. Awalnya si X chat saya tentang lagu-lagu dan beberapa artikel yang tidak saya balas. Saya pernah bertemu si X di sebuah cafe 2x, dan dia bilang akan menunggu saya di cafe tersebut. Pemilik cafe tersebut adalah kenalan saya dan dia bilang si X datang dengan membawa bunga. Saya memang tidak datang karena tidak janji juga. Lalu dimulailah peneroran. Dia chat ketika saya kelas, dalam range 15-30menit dan juga misscall. Ketika saya bilang sibuk atau sedang menyetir, dia tidak percaya dan menganggap saya bohong. Saya diancam katanya akan mencari saya di kampus. Ada cerita juga si X marah pada saya karena saya tidak mau nonton bioskop dengannya. Katanya saya tidak ada pacar lalu kenapa menolak tidak mau nonton dengannya. Itu sebuah pertanyaan? Bukankah itu hak saya ya? Tapi saya lagi sang antagonis. Akhirnya saya melapor ke pemilik cafe dan entah apa yang dilakukannya. Si X masih tetap menchat saya sesekali dan tak kubalas. *Sekarang sudah kublock

Cerita Kedua

Si Om dan seorang Koko, cerita ini ada dua orang dan di waktu yang beda. Si Om beda 2x umurku dan si koko lebih besar 10 tahun dariku. Dan cerita yang mirip. Mulai dari si koko, kejadiannya SMA mungkin ya. Ngechat-ngechat dan mau belikan aku kado ulang tahun. Lalu pas papaku sakit mau jenguk tapi maksa, katanya sih sudah ada depan rumah, lah wong dirumah ga ada orang ya, semua lagi di rumah sakit, Akhirnya yang turun tangan si Mama dan saudaraku, supaya dia berhenti mengganggu. Kalau si Om ini, cupu kayanya disaat teknologi sudah canggih, si om sms loh. Dan dia sms hal penting ya kubalas dong. Mulai deh dia mendatangi tempat kerjaku sampai datang ke rumah bawa buah, untung dikira kurir jadi ga ditawari masuk karna aku pun ga ada di rumah. Sudah kutolak tapi dia bilang mau ketemu papaku dan kalau sabtu ga kerja dia mau bantu-bantu kerjaan si papa cenah. Akhirnya mundur juga sih.

Sumber: Google Search
Akhir Kata
Banyak sih kisah lainnya kalau mau diceritakan. Intinya mau sebaik apapun kita tetap aja bisa jadi antagonis buat orang lain. Dan kalau ada konflik yang menjadi korban itu kedua belah pihak hanya mana aja yang lebih dominan menjadi yang antagonis. Bukan berarti mengeluh itu salah ya. Wajar sih kalau kita merasa dijahati, dilukai, dan menjadi korban. Tetapi ada masanya lebih baik kita mencoba berpikir dari sudut pandang orang lain. Kadang ga selalu kita korbannya, bisa jadi kita menjadi korban karena ulah kita sendiri. Saat kita memiliki mentalitas korban, kita menyalahkan orang lain dan keadaan artinya kita merasa diri kita yang paling benar. Minta dikasihani dan ingin membuat orang lain merasa bersalah sedangkan kita tidak pernah salah apa-apa juga salah satu cirinya.



P .s :

Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar hak cipta atau menyalin karya orang lain.





Mengeluh karena Sebal

Hal yang Mengganggu "Kenapa sih? Nyebelin deh!" "Ih..Sebel bgt deh" "Dasar annoying" Mungkin ki...