Selasa, 02 Januari 2018

Tahun Baru, Resolusi Baru? Apa kabar resolusi tahun lalu?




Selamat Tahun Baru, semua! Berbicara soal tahun baru, tentunya banyak hal-hal baru yang menunggu kita di tahun yang baru ini. Mungkin ada target-target yang belum tercapai di tahun sebelumnya dan ingin dilanjutkan di tahun ini. Saat tahun baru biasanya kita merenungkan apa yang telah kita lalui selama setahun. Perayaan tahun baru pun diwarnai dengan euforia kegembiraan lainnya.

Hidup Kita dan Kembang Api 


Saya pribadi lebih menyukai melihat kembang api dibandingkan aktivitas meniup terompet bahkan terkadang terganggu dengan bisingnya suara terompet. Saat melihat kembang api ada dua pemikiran yang terlintas. Pertama, sebagai lulusan jurusan ekonomi atau mungkin pada dasarnya saya pelit, saya menghitung-hitung cost yang dihabiskan seluruh umat manusia diatas bumi ini. Coba bayangkan saja, dalam satu kota ada berapa titik pesta kembang api? Rata-rata hotel dan pusat perbelanjaan mengadakannya untuk menarik jumlah pengunjung ditambah dengan perorangan. Dalam waktu singkat sekitar 15 menit ada berapa banyak "uang yang dibakar" dalam arti uang yang digunakan untuk membeli kembang api.
Kedua, dalam hidup kita pun seringkali menemukan kembang api - kembang api. Terlihat indah dan cantik tapi hanya dalam waktu yang singkat. Kebahagiaan itu seperti itu, mungkin saat ini kita senang tapi beberapa menit kemudian kesenangan itu hilang. Hari berganti hari dan semangat pun kian meredup,

Kembang api telah mekar di langit, tahun yang lalu sudah berakhir dengan segala hal-hal baik suka maupun duka tapi tetap harus kita syukuri. Banggalah karna anda sudah berhasil melewatinya. Dan sekarang di awal tahun kita sedang meluncurkan kembang api baru yang kita tak tahu akan mekar seindah apa, selama apa dan sebanyak apakah dia.

Resolusi 

Setiap awal tahun selain merefleksikan setahun ke belakang tentunya akan banyak yang bertanya apa resolusi tahun ini. Berdasarkan pengalaman resolusi itu seperti target atau harapan yang ingin dicapai dan rata-rata saya gagal melakukannya. Bukan karna resolusi saya yang mengada-ada dan memiliki standar tinggi untuk dicapai, melainkan resolusi saya kurang jelas. Contohnya salah satu resolusi saya di tahun lalu adalah memperbaiki jam tidur. Dan tentunya mutlak gagal saya lakukan karena itu hanyalah keinginan saja, tetapi praktek itu sulit karena ada berbagai hal dan kebiasaan insomnia tentunya tak mudah dirubah. Pola hidup dan aktivitas saya harus dirubah demi mewujudkan jam tidur yang baik, namun saya tak mampu merubahnya karena menyangkut orang lain dan lingkungan sekitar.
Resolusinya ingin punya usaha, tapi modalnya tak ada belum lagi ide bisnis saja tak cukup perlu kenekatan untuk mewujudkannya. Buat saya pribadi kendalanya adalah waktu dan dukungan orangtua. Bagaimana mau memulai kalau ide-ide saya selalu dibilang tidak akan berhasil dan lain sebagainya. Mungkin memang benar mereka lebih berpengalaman dari saya da memberi nasihat yang baik, namun terkadang orang tua tidak ingin anaknya terjatuh sehingga tidak mengizinkan sang anak belajar berjalan. Banyak orang-orang sukses yang saya tahu dahulunya bermodal nekat bahkan melawan orang tuanya, dan sekarang ketika berhasil sang orangtua bangga sekali. Bayangkan kalau ketika pada masa itu sang ortu juga mendukung, tapi ya memang dalam hidup tidak ada yang mudah mulus dan lancar sih. Manusia itu berkembang ketika dalam tekanan dan menjadi malas ketika tidak ada yang menekan.

Resolusi saya di tahun ini saya ambil dari 1 Tesalonika 5 : 17 ; "Tetaplah Berdoa." 

Ayat yang sangat singkat tapi ini sulit dilakukan. Berdoa itu adalah hal yang universal, semua orang bisa melakukannya menurut kepercayaannya masing-masing. Berdoa itu bukanlah hal yang mudah. Terkadang kita lupa dan menyepelekannya. Doa yang menjadi rutinitas pun kadang berubah jadi seperti hafalan saja. Kalau saya terkadang tak ingin berdoa karena akan menangis tersedu-sedu. Merasa saya masih mampu menjalaninya tanpa perlu ngadu pada Tuhan. Kalau digambarkan itu seperti saya sedang curhat pada orang yang saya percayai, Kita akan terlihat baik-baik saja didepan semua orang bukan? Tapi didepan orang yang anda percayai, segala permasalahan atau hal-hal kecil pun bisa menjadi curhatan. 

Untuk kasus saya sih, saya jarang sekali mengeluh, emosi pun bisa ditahan dan kesabaran yang terkadang tidak jelas batasannya, tapi pada pribadi yang saya percayai keluarlah itu semua. Hanya sedikit orang yang tahu diri saya yang ini dan beberapa dari mereka malah menjauh dan merasa kalau saya ini hanya tukang mengeluh, padahal saya tak mengeluh pada siapapun hanya padanya. Kasihan sih sebenarnya, karena orang tersebut seperti tong sampah tempat saya membuang keluh dan kesah, tapi percayalah kalau orang ini adalah orang yang special bagi saya kalau tidak ya mana mungkin saya melakukan hal tersebut. Dan manusia itu mengecewakan tetapi Tuhan tidak. Dia bahkan tau keluhan dan permasalahan yang saya hadapi. Itulah sebabnya, ketika mau berdoa. Sebelum kata-kata terucap tangis saya sudah pecah duluan, seakan-akan Tuhan berkata "Ya, Aku tahu, Aku mengerti". Kalau sudah menangis seperti itu mata saya akan bengkak belum lagi pada saat menangis orang disekitar saya akan menanyakan kenapa. Sulit mencari tempat dimana saya bisa menangis dan tidak ditanya-tanya. Jadi ketika berdoa kadang saya harus mencari tempat dan waktu yang tepat jadi seringkali berdoa sekedar menyapa Tuhan tanpa ada keintiman, sekedar rutinitas dan kadang terlupakan. 

JADI RESOLUSI TAHUN INI ADALAH TETAPLAH BERDOA. Sekalipun susah, senang, atau tidak keduanya saya ingin tetap berdoa.


Happy new year!! Semangat menyambut tahun yang baru.

Baca juga https://la-lilyofthevalley.blogspot.co.id/2017/12/greetings-from-lily-of-valley.html

P .s :
Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengeluh karena Sebal

Hal yang Mengganggu "Kenapa sih? Nyebelin deh!" "Ih..Sebel bgt deh" "Dasar annoying" Mungkin ki...