Senin, 08 Januari 2018

Terjepit Diantara Dua Pilihan


Pilih yang ini salah, pilih yang itu pun salah. 

Jadi harus bagaimana??

Sumber : Google Search

Pernahkah kalian bertemu orang yang tidak bisa mengambil keputusan? Sering kali lamban dan plin-plan dalam memutuskan sesuatu? Dalam kehidupan tentunya ada banyak sekali pilihan yang akan muncul dan mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Keputusan mana yang harus dipilih? Tentu saja ada baik dan buruknya karna setiap keputusan yang kita ambil ada konsekuensi dan hasil yang berbeda didalamnya. 

Misalnya kita bingung membeli baju warna merah atau biru. Apabila kita tak bisa memutuskan karna menyukai keduanya dan berakhir membeli keduanya, menurut saya itupun kurang baik. Bukankah menjadi pemborosan, apakah kita benar-benar perlu dua baju dengan model yang sama. Sama halnya ketika kita tak bisa memutuskan menu makanan yang akan kita pesan, apakah akan berakhir dengan memesan keduanya?

Saat berada dalam persimpangan dan harus memilih sering kali kita meminta bantuan orang lain untuk membantu memutuskan. Disinilah permasalahan yang sering terjadi. Masukan-masukan dari orang lain bisa kita gunakan sebagai bahan pertimbangan, bukan menjadi penentu mutlak. Jika terlalu bergantung pada keputusan orang lain nantinya kita akan apatis dan tak memiliki keberanian untuk memilih. Dengarkanlah masukan orang lain karena mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda yang mungkin membantu kita dengan pemikiran yang lebih luas. Tetapi perlu diingat bahwa keputusan ada di tangan kita bukan orang lain. Jadi apapun yang terjadi nantinya kita tidak akan menyesal dan menyalahkan orang lain.

Berbagi kisah pribadi yang mungkin bisa menjadi pembelajaran bagi dunia parenting. Setiap anak belajar dari keluarga bukan, karakter dan kebiasaannya dibentuk oleh lingkungan yang terdekatnya. Saya sendiri sering kali merasa sulit untuk mengambil keputusan. Setelah lama sekali plinplan akhirnya memutuskan sesuatu dan akhirnya akan menyesal mengapa tidak memilih pilihan yang satunya. Dan selalu bersikap netral atau golput (golongan putih : tidak menggunakan hak suaranya untuk memilih). Selidik punya selidik ternyata terbentuk karena kedua orangtua saya.

Sedari kecil saya selalu harus memilih mama atau papa. Saya papa berkata ya, mama berkata tidak. Saat papa berkata tidak, mama berkata boleh. Bukankah itu membingungkan seorang anak? Sehingga saya mengambil kesimpulan kalau melakukan ini bersama papa boleh sedangkan ini tidak akan saya lakukan di depan mama. Banyak sekali hal yang membuat saya bingung. Mana yang benar? Perkataan papa atau mama yang harus saya turuti.

Ketika saya sudah bisa menyetir, sering kali terjadi percekcokan di perjalanan. Papa berkata belok kanan dan mama meminta saya belok kiri. Jika saya mengikuti papa, lalu terjebak macet maka mama akan menyalahkan saya tidak mendengarkan beliau. Begitu sebaliknya. Karena saya bandel, terkadang saya memilih lurus saja dan nantinya diomeli oleh keduanya. Tapi perasaan dimarahi keduanya lebih mending daripada mengecewakan salah satunya.

Saya pun pernah ditegur untuk bisa memutuskan sendiri tanpa harus bertanya pada mereka. Tetapi itu pun saya dimarahi karena keputusan saja. Kisahnya ketika memesan tiket pesawat, sebelum memilihpun saya sudah bisa menebak skenario apa yang akan terjadi.

  • Skenario A : Pasti akan diomeli karena memilih penerbangan pukul 8.00 pagi hanya karna harganya yang murah. Karena 2 jam sebelum penerbangan kami sudah harus tiba di airport belum lagi perjalanan tentunya harus bangun jam-jam subuh. Saya akan dibilang pelit.
  • Skenario B : Pasti akan dimarahi karena memilih harga lebih mahal dan penerbangan yang "terlalu siang" pukul 11.00 . Saya akan dibilang boros tidak bisa berhemat.

Dengan pertimbangan saya malas bangun pagi dan nantinya sulit mencari transport ke bandara pagi-pagi, maka dipilihlah skenario B. Dan terjadilah sesuai yang sudah saya perkirakan. Jadi mungkin yang diinginkan adalah harga murah dan penerbangan sekitar pukul 10 pagi, hmm mungkin saya perlu memiliki perusahaan penerbangan sendiri agar tidak kena omelan.

Memilih penginapan pun sama, ingin yang ada toilet di dalam dengan konsekuensi tentunya harganya lebih mahal dibanding yang toilet di luar. Lalu kamar harus yang ada jendela karena ada AC saja tidak cukup untuk sirkulasi udara yang baik. Saya berhasil menemukan sesuai kriteria diatas lalu apa omelannya? Feng shui-nya kurang bagus karena letak kamarnya yang berhadapan dengan jalan. Oaaalah, ingin rasanya mengaruk-garuk tembok atau menggigit lemari. Kalau sudah seperti itu, saya ingin menyerahkan tanggung jawab untuk memilih pada yang bersangkutan saja sehingga saya tidak akan disalahkan. 

Kisah saya tersebut mungkin saja bisa menjadi contoh mengapa ada orang-orang yang sulit membuat keputusan. Kita tidak tahu apa pengalaman dan bahan pertimbangan orang tersebut karena mungkin dampak yang dirasakan si pembuat  keputusan berbeda dengan apa yang kita kira. Saran saya untuk yang sering bingung membeli sesuatu karna warnanya, cobalah melihat segi lainnya. Seperti warna apa yang lebih sedikit anda miliki. Kecocokan dengan warna kulit, mana yang terlihat lebih segar atau manis untuk anda. Lalu akan dipadupadankan dengan apa bawahannya, tas atau sepatu. Begitupula jika memesan makanan, anda bisa memutukan berdasarkan analisa singkat mengenai harga, bahannya, dan bisa berfikir untuk mencoba menu satunya dikedatangan yang berikutnya.

Bagi yang sudah berkeluarga maupun belum, usahakan untuk sepaham dalam mendidik anak, agar sang anak tidak kebingungan dan nantinya sulit membuat keputusan untuk hal-hal yang sifatnya mungkin sepele. Di masa depannya, akan banyak pilihan-pilihan yang harus dibuat, jadi berilah kepercayaan bagi sang anak untuk dapat memilih. Juga melatihnya untuk berani bertanggungjawab dan menanggung konsekuensi atas pilihannya tersebut. Konsekuensi itu tidak selalu buruk bisa juga hal baik, yang diperlukan adalah dukungan dan pengertian mengapa keputusan itu yang diambil bukan pilihan yang lainnya.

Jika anda sedang berada diposisi terjepit diantara dua pilihan, cobalah untuk memilih salah satunya. Pilih yang menurut anda lebih sedikit resikonya. Ingat, kedua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tidak ada pilihan yang lebih benar, karena kalau ada anda tidak akan bingung memilih. Jika harus memilih kebenaran atau yang bukan, kembali lagi pada anda. Tetapi yang benar umumnya benar, jika kita memilih yang salah maka akan salah dan nantinya percaya atau tidak anda akan kembali ke titik yang sama untuk dibelokan ke arah yang benar. Bila anda mampu membuat pilihan ketiga yang lebih baik, bisa dicoba namun perlu diingat pilihan ketiga bukanlah lari (tidak memutuskan). Saat anda memilih lari, maka dua pilihan itu akan tetap mengejar anda untuk dipilih.


Terimakasih sudah membaca. Salam LA :)

Baca juga https://la-lilyofthevalley.blogspot.co.id/2018/01/tahun-baru-resolusi-baru-apa-kabar.html

P .s :
Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengeluh karena Sebal

Hal yang Mengganggu "Kenapa sih? Nyebelin deh!" "Ih..Sebel bgt deh" "Dasar annoying" Mungkin ki...