Pernahkah mendengar kalimat seperti judul diatas?
"Gimana nanti aja deh"
"Gimana ntar"
Kalau bahasa santainya mungkin let it flow, biarkan saja berjalan semestinya tidak usah dipikirkan sekarang tapi nanti saja. Ada baiknya dan ada buruknya. Baiknya tentu saja, kita tidak perlu khawatir berlebihan. Lebih easy going dan tidak ribet rempong. Buruknya adalah menganggap remeh, seakan-akan segalanya mudah dan dapat dikontrol. Gambaran singkatnya mungkin seperti orang yang akan travelling.
Ada orang-orang yang benar-benar santai dan menikmati liburan tanpa ada jadwal dan perencanaan, ada pula yang segalanya tercatat dan terencana dengan sempurna. Saya termasuk orang yang bisa mengikuti dua tipe tersebut. Tidak murni salah satunya tetapi campuran. Biasanya untuk travelling ke satu tempat, saya sudah mencari informasi tempat wisata favorit dan menandai mana yang ingin saya kunjungi. Kalau saya sedang menjadi penunjuk arah atau pemimpin di grup tersebut saya akan mencari tahu rute bagaimana sampai pada tempat tersebut dan membuat perencanaan jadwal akan mengunjungi hari apa. Tetapi tak jarang juga, saya hanya mencatat lokasi yang ingin didatangi tetapi kumaha engke weh diditu, hahahaha... baru tanya-tanya orang ketika sudah tiba disana. Atau juga kadang mendatangi tempat secara random, objek wisata yang sekalian lewat.
Dari pengalaman saya, kalau "gimana nanti saja" tentunya kita santai dan tidak terlalu capai tetapi biasanya waktu yang digunakan tidak maksimal. Ada kalanya terlewat moment tertentu seperti pemandangan sunset yang indah atau pertunjukan atraksi. Tempat yang ingin dikunjungipun terkadang terlewat, tidak sempat, keburu tutup atau kami membuang waktu diperjalanan karena bolak-balik.
Sedangkan kalau "nanti gimana", jelas pastinya stress diawal ketika membuat jadwal karena belum tau keadaan di sana dan banyak hal tak terprediksi yang mungkin terjadi. Jadwal kereta misalnya yang kita tidak tahu kapan atau mendadak ada yang ingin ke toilet sehingga kita berputar-putar ditambah nyasar. Dan kalau mengikuti jadwal itu sungguh cape, hahaha.. wajar sih karena ingin semua didatangi pingin semua diubek kan mumpung disana belum tentu datang dua kali.
Untuk barang bawaan juga dulu saya adalah orang yang worry too much. Nanti gimana kalau begini dan begitu jadi aja segala dibawa. Sekarang saya malah orang yang gimana nanti aja, kalau butuh ya beli lah disana masa ga ada yang jual. Kalau kira-kira memang barang keperluan yang sulit ya dibawa dari rumah. Contohnya itu OBAT.
Sangking worry dulu saya selalu bawa satu pouch isi obat komplit, karena "Gimana ntar kalau sakit". Itu berat ya karna segepok dan bermacam-macam, makan tempat deh dan akhirnya dibawa bolak-balik tanpa dimakan juga kan. Sekarang saya hanya bawa obat yang penting saja, sisanya ya kalau butuh ke dokter lah atau beli di apotek. Kitakan bukan ke pedalaman kan? Beda cerita kalau mau ke pedalaman. Sepertinya menarik untuk dicoba, mendekatkan diri dengan alam dan mencoba tidak tergantung dengan segala kemudahan di kota.
Obat yang pasti banget kubawa itu Antangin cair (sebut merek ya maap), karena saya mudah sekali mabuk perjalanan, pasti beli merek ini karena rasanya masih kusukai, kalau merek lain agak kurang suka, ini juga berguna banget jadi pengganti vitamin apalagi kalau perubahan cuaca di daerah yang suhunya beda, bisa juga buat pegel-pegel. Berguna sekali! Dan saya biasanya pasti bawa obat maag dan obat batuk. Saya itu alergi zat efedrin dan clindamycin biasanya obat batuk atau obat radang tenggorokan mengandung ini, jadi ya berjaga-jaga pasti bawa.
"Nanti gimana?"
"Gimana kalau ...... "
Sebagai seorang pemikir, apa semua introvert seperti saya entahlah. Tetapi saya sering kali berpikir "nanti bagaimana", segalanya dipikirkan sedetail-detailnya, kemungkinan terburuknya, segi positif dan negatifnya. Belum kejadian pun sudah dipikirkan nanti bagaimana menyelesaikannya kalau itu muncul, padahal sampe akhir juga yang kutakutkan ga terjadi tetapi uda ancang-ancang dulu.
Jujur ya, di umurku yang seperempat abad ini rata-rata semuanya bertanya dan KEPO soal pasangan hidup. Saya sulit banget deh buat di PDKT in, sulit jatuh cinta juga. Tapiiiii kalau uda jatuh ya gitu deh jatuh sejatuh-jatuhnya, hahahaha.. susah move on nyak :P . Buat pindah dan mengizinkan orang lain masuk itu sulit, lah wong uda ga baper, uda ga suka sama siapa-siapa juga da ga gampang buat suka sama orang. Kalau soal suka sih, banyak orang yang kusuka mah, tetapi yang bener-bener bisa meruntuhkan menembus tembok hati ini ga banyak.
Suka sebagai temen ga lebih. Mungkin ada beberapa yang membuatku tertarik, hampir jatuh.. tetapi munculah mantra sakti "Nanti gimanaaaa??". Suka doang ga cukup loh.
Saran buat yang sering baper , yang suka galau belum punya pasangan , yang sering merasa di PHP in :
"Nanti gimana" itu sakti loh, mencegah dibuat suka lalu ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. XP
Saya pernah dekat dengan seseorang dan mungkin kita berdua memiliki perasaan yang sama. Kalau saat itu kujawab iya, mungkin sekarang dia jadi bagian dari para mantan. Kenapa? Karna dulu pun aku sudah tau kita ga mungkin punya cerita yang panjang. Kalau pun jadi ya pasti sekarang juga uda putus sih.
Alasannya "nanti bagaimana?", dia tidak bisa meyakinkanku dan melihat segala nya memang nanti nya juga tidak akan bisa. Mikirnya itu tujuan pacaran apa? Suka sama suka lalu pacaran? Tujuan pacaran supaya saling mengenal lebih dalam dan syukur-syukur nantinya jadi teman seumur hidupkan?
Saat melihat nanti gimana itu, bukan berarti hal buruk yang kulihat loh. Bisa jadi kebaikan dia yang tidak sesuai denganku. Kadang ada hal-hal yang okay sebagai teman, tetapi kalau buat pasangan hidup hmmm... tidak deh. Belum lagi faktor eksternal. Keluarganya akan menjadi keluarga kita juga. Kita ga hanya menerima apa adanya satu individu tapi komplit semua, keluarga, saudara tiri, tetangga, teman, peliharaannya bahkan masa lalunya juga.
Kalau teman pelit itu bukan masalah. Main ya main sesuai budget dia, tetapi kalau pasangan hidup? Nih ya, kalau beli sandal kan ukuran 40 dan 42 harganya sama kan ya? Dan dia merasa rugi gitu jadi dibeli yang ukuran besar. Lalu beli celana jeans juga XL dan XXL harganya sama bukan? Dibeli yang XXL karena merasa rugi, sudahnya pakai ikat pinggang dan kalau kepanjangan digunting dan sisa kain potongan jadi lap.
Kalau sebagai teman ya tidak apa-apa, tetapi kalau dia jadi suamiku? Duh ya kali ntar kalau beli sepatu sandal juga ukuran harus lebih gede supaya ga rugi. Lalu ntar anakku dibeliin baju yang ukuran dewasa gitu biar awet bisa dipake dari bayi sampai dewasa. Kan???
Soal makanan juga, kalau pasanganku susah makannya? Kan bingung ya masakin apa kalau ini itu ga doyan. Bisa jadi malah saya yang bosen makan itu mulu ga bisa makan yang lain. Ini dari versi cewe, nah kalau dari cowo juga bisa dilihat. Misalkan uang jajan si cewe sebulan 20juta, buat shopping singapura, ke salon tiap minggu, meni pedi, perawatan, kebutuhan make up, biaya arisan, dan lain-lain. Sedangkan cowo nya sebulan penghasilannya baru 10juta, belum dipotong kredit mobil, kredit rumah, dan lainnya. Nanti gimana?
Gimana Nanti bukan Nanti Gimana
Pernah tidak ditelepon ditawari kartu kredit? Saya merasa dengan kemudahan adanya kartu kredit menjadikan kita konsumtif. Ada diskon disana dan disini, jadinya muncullah pengeluaran yang berlebih. Mumpung diskon jadi beli, kalau tidak diskon ya tetap beli kan bisa kredit. Belum gajian? Bayar dulu pakai kartu kredit, gimana nanti saja bayarnya. Pas uda gajian, gaji dipotong tagihan kartu kredit lalu, nanti gimana hidup gue sebulan kedepan, makan apa ya? Belum bayar kostan pula.
Generasi anak sekarang kayanya memang generasi konsumtif. Anak-anak sekarang mainannya mahal-mahal. Mereka sudah kenal yang namanya gadget dan umumnya trend berkembang cepat dan ingin ganti. Lalu makanan dan cafe-cafe makin banyak dan tentunya tidak murah. Masih ingat rasanya kalau dulu itu malu sama teman karena semua pakai tas dorong lalu berlomba-lomba mengumpulkan hadiah chiki buat dipamerkan. Jaman sekarang? Malu karena semua teman punya smartphone dan bisa update instagram lalu berlomba-lomba mengumpulkan item di game sampai memohon ke orang tua dibelikan koin gemz game. Nanti gimana ya anak-anak itu kalau sudah dewasa, apakah penghasilan mereka cukup memenuhi pengeluarannya.
Konsumtif juga karena makin kesini manusia semakin malas. Malas masak, malas keluar rumah, beli aja delivery. Lalu pergi ke mall, malas cari parkir, bayar vallet saja. Belum lagi yang malas jalan. Dulu itu kalau mendadak disuruh ortu beli garam atau apa ya jalan kaki ke warung depan komplek. Sekarang stater motor padahal cuma buat ke warung aja yang deket. Demi penampilan juga malas cuci rambut di rumah jadi ke salon sekalian meni pedi. Gunting kuku di rumah sendiri bukannya gratis ya? Jadi sebenarnya kita yang jadi malas? Tuntutan sosial? Atau dimanjakan dengan kemudahan?
"You only live once" gitu katanya. Jadi nikmati aja sekarang sisanya gimana nanti, ntar juga ada jalan. Pacaran ya jadiin aja dulu kan gimana nanti kalau jadi syukur kalo ga kan bisa putus. Dulu kalau sepatuku rusak ya di lem, ga dibuang dan beli yang baru begitu saja.Karena bisa menjahit, kalau bajuku robek dikit atau kancing lepas ya kujahit. Jadi lebih menghargai kalau segala sesuatu itu tidak mudah dibuang dan ganti yang baru.
Hubungan juga seperti itu. Kalau ada masalah, lebih baik diselesaikan jadi nanti bagaimana, apa yang harus dilakukan supaya ga terulang kembali, bagaimana ke depannya. Sedangkan ya sudahlah gimana nanti, kita jalani saja. Kalau jalannya ke arah yang baik ya bagus, kalau tidak berjalan sesuai keinginan kita? Menurutku perencanaan itu penting termasuk komitmen di dalamnya, jadi ada kejelasan dalam hubungan dan dengan sama-sama berdiskusi serta saling terbuka bukankah itu lebih baik?
Terimakasih sudah membaca :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar