Jumat, 02 Maret 2018

Mentalitas Korban


Sumber: Google Search
Beberapa hari belakangan ini, saya merasa terganggu oleh chat seseorang. Sesuai judulnya mentalitas korban, sang peneror ini menjadikan saya seorang antagonis dan merasa dirinya adalah korban. Begini ceritanya :

Saya pernah berteman dengan seorang perempuan sebut saja si A. Dibilang dekat sekali tidak juga hanya sebatas beberapakali makan bersama dan hanya membicarakan seputar tugas. Di tempat itu pula ada satu orang pria sebut saja si Z, sekedar tahu dan tidak pernah ngobrol dan lainnya.  Lalu, si A dan si Z ini pacaran. Sejak itu, saya tidak pernah berhubungan lagi dengan si A.

Mendadak saya menerima pesan Whatsapp dari si Z.
Z   : "Li, lu jadi pacar gue ya"
Me : "apa sih?"
Z   : "iya gue suka sama lu"
Me : *tidak membalas
Z   : "jadi pacar gue ya" "bla-bla" *spam chat

Menurut saya itu hal yang tidak wajar. Sempat berfikir mungkin dia putus dengan si A, mau balas dendam. Atau juga hanya mengerjai saya. Jujur, saya benci dan kurang suka sih diperlakukan seperti itu. Belum apa-apa dan ga kenal lantas mendadak bilang suka dan minta jadi pacar. Se-desperate itukah ingin punya status "pacar". Melenceng sedikit tetapi pernah kejadian serupa seperti ini terjadi. Seorang mengajak saya berpacaran dengan alasan "ya lumayankan, kalau jalan bawa lu kan ga malu-maluin". Dalam artian fisik saya tidak jelek mungkin ya, tapi sakit hati mah teteup wee. Ada ya orang seperti itu, menganggap saya seperti barang yang dibawa dan dipamerkan.

Balik lagi ke cerita awal, kebetulan saya ganti nomor jadi tentunya Whatsapp saya pun ganti. Setelah bertahun-tahun terlewat bahkan saya lupa ada makhluk seperti si Z itu, dia menchat saya lagi di Line apps. Dan bodohnya, saya bertanya "ini siapa?". Nama sebenarnya si Z itu pasaran jadi saya pun sempat berfikir teman yang lain. Kurang lebih seperti ini percakapan kami :
Z   : 
"Li, gue minta maaf ya";
"Gue melakukan kesalahan besar sama lu";
"Maafin gue" 
Me :
"Apaan sih"
Z   :
"Iya, gue salah sama lu. Selama ini si A ngejelekin lu jadi gue benci sama lu li"
Me :
"Emang apaan? Gw sama si A baik-baik saja"
*padahal memang sudah ga ada kontak dan seingat saya tidak pernah ada konflik apapun dengan si A
Z   :
"Iya pokoknya gitulah. Lu maafin kan ya. Lu tetep jadi temen gue"
Me :
"Ya udah, ngapain minta maaf. Lu salah apa gue ga tau juga"

bla-bla-bla
*akhirnya saya cuekin dan ga kontak lagi

Setelah beberapa tahun lewat, nah kemarin, dia hanya chat "Li" lalu "Li". Masih saya abaikan. Tetapi terus menerus, dan jujur saja lelah pengen berenti diganggu. Maksud hati memberi penjelasan supaya orangnya mengerti dan ga mengganggu lagi tetapi malah mental korbannya keluar.
Z   : *spam chat
Me : "knp?"
Z   : "Mau minta maaf sama lu, sama pengen temenan sama lu boleh ga. Kalau selama ini gue ada salah"
Me : "dejavu ya, lu chat kaya gtu berapa kali. Hobi bener minta maaf"
Z   : "Soalnya lu ga mau maafin gue sih. Sama ga pernah mau temenan sama gue"
Me : "ngapain mau temenan2" ; "kalo gw ga mau gmn"
Z   : "pengen aja temenan sama lu"; "Yah itu mah nasib li"
Me : "sebenernya dengan lu bilang mau temenan dan minta maaf dulu itu memojokan, bikin orang ga bisa menolak"

Bla-bla-bla

Z  : "lu udah punya pacar ya li";"udah punya cowo belum"; "emang alasan u apa sampe mau ngeblock line gue"
Me : "merasa terteror aja, gue merasa diteror"
Z   : 
"gue ga merasa neror lu, sama siapa?"
"gue uda bilang minta maaf"
"emang gue minta temenan sama minta maaf salah ya"
Me : "cari temen yang lain aja deh ya"
Z   : "gak mau, gue tetep pengen temenan sama lu. sama satu lagi, gue mau nembak lu"
Me : "GILA! jangan salahkan gue ngeblock ya"
Z   : "gue waras tau, maaf bikin salah, maaf bikin lu marah, bukan salah gue kalau suka sama lu tau, dari sebelum jadi sama si A gue udah suka sama lu, terus gue mau temenan sama lu masa ga boleh sih"
Me : "menyesal ngebales tadi, harusnya ga diwaro aja"
Z   : "sorry atuh, jangan ngomong gitu atuh, lu kenapa sih jadi marah sama gue"
Me  :"maaf aja kalau gue ga mau temenan sama lu, gue ga marah tapi mari diselesaikan saja, gue ga nyaman. Move on aja deh, kalau emang suka sama gue, ngerti dong kalau uda gue tolak berkali-kali"
Z   : "maaf gue ganggu hidup lu ya, gue gak akan mau move on dari lu...bla-bla-bla-bla..... karena jodoh itu di tangan Tuhan....blablablabla

*SUDAH SAYA BLOCK

Sumber: Google Search

Ada perasaan buang-buang waktu ngeladenin orang seperti itu. Tapi ada rasa bersalah juga, karena saya itu ga tegaan orangnya jadi ditega-tegain aja. Dari posisi dia, si Z sudah meminta maaf tetapi saya tidak memaafkan, tidak mengerti dia, jadinya dialah korbannya. Dengan maksud membuat saya merasa bersalah mangkanya dia seperti itu.

Cerita ini sebenarnya nyambung dengan beberapa peristiwa lainnya dalam hidup saya. Gimana ga makin sulit didekati ya, hahahaha... Saya cukup terkenal sombong, galak, jual mahal dll. Kalau dimodusin udah pasti cut off diawal karna saya ga mau dibilang PHP. Sebelum bilang orang lain mental korban, saya juga sudah merenungi dulu. Apakah saya juga memiliki mental korban?

Sumber: Google Search
Mungkin iya dan mungkin tidak. Justru saya sering menjadi korban maka dari itu saya ga tegaan dan peka terhadap orang yang memiliki mental korban. Jadi mungkin mereka tertarik pada saya karena menganggap saya bisa mengerti dan memahami kalau diposisi mereka. Tetapi saya tidak suka kalau dikasihani, saya tidak mau menjadi korban. Ketika jadi korban keadaan, biasanya saya melawan atau lari. Ingin lepas dan menyelesaikan konflik secepatnya. Seperti sekarang saya block orang itu jadi tidak lagi berlarut-larut dalam masalahnya. Jadi saya terus memperbaiki diri dan membuang jauh-jauh mental korban dalam diri ini.

Saya tidak suka kalau ditanya "lagi apa?", "lagi ngapain?", "udah makan belum?" dan saya parno kurang suka kalau ditelepon sebelum orangnya ngechat dulu dan bilang mau telepon. Bisa dibilang mungkin ada trauma tersendiri karena orang-orang yang suka neror ini. Ini bukan kejadian pertama. Sudah beberapa kali berurusan dengan orang-orang "aneh". 


Cerita Pertama


Si X ini memaksa seorang teman perempuan, supaya saya mengadd si X, sampai teman ini memohon-mohon dan menangis karena dia diteror si X. Akhirnya saya mengalah dan memang sudah curiga akan kejadian aneh-aneh. Awalnya si X chat saya tentang lagu-lagu dan beberapa artikel yang tidak saya balas. Saya pernah bertemu si X di sebuah cafe 2x, dan dia bilang akan menunggu saya di cafe tersebut. Pemilik cafe tersebut adalah kenalan saya dan dia bilang si X datang dengan membawa bunga. Saya memang tidak datang karena tidak janji juga. Lalu dimulailah peneroran. Dia chat ketika saya kelas, dalam range 15-30menit dan juga misscall. Ketika saya bilang sibuk atau sedang menyetir, dia tidak percaya dan menganggap saya bohong. Saya diancam katanya akan mencari saya di kampus. Ada cerita juga si X marah pada saya karena saya tidak mau nonton bioskop dengannya. Katanya saya tidak ada pacar lalu kenapa menolak tidak mau nonton dengannya. Itu sebuah pertanyaan? Bukankah itu hak saya ya? Tapi saya lagi sang antagonis. Akhirnya saya melapor ke pemilik cafe dan entah apa yang dilakukannya. Si X masih tetap menchat saya sesekali dan tak kubalas. *Sekarang sudah kublock

Cerita Kedua

Si Om dan seorang Koko, cerita ini ada dua orang dan di waktu yang beda. Si Om beda 2x umurku dan si koko lebih besar 10 tahun dariku. Dan cerita yang mirip. Mulai dari si koko, kejadiannya SMA mungkin ya. Ngechat-ngechat dan mau belikan aku kado ulang tahun. Lalu pas papaku sakit mau jenguk tapi maksa, katanya sih sudah ada depan rumah, lah wong dirumah ga ada orang ya, semua lagi di rumah sakit, Akhirnya yang turun tangan si Mama dan saudaraku, supaya dia berhenti mengganggu. Kalau si Om ini, cupu kayanya disaat teknologi sudah canggih, si om sms loh. Dan dia sms hal penting ya kubalas dong. Mulai deh dia mendatangi tempat kerjaku sampai datang ke rumah bawa buah, untung dikira kurir jadi ga ditawari masuk karna aku pun ga ada di rumah. Sudah kutolak tapi dia bilang mau ketemu papaku dan kalau sabtu ga kerja dia mau bantu-bantu kerjaan si papa cenah. Akhirnya mundur juga sih.

Sumber: Google Search
Akhir Kata
Banyak sih kisah lainnya kalau mau diceritakan. Intinya mau sebaik apapun kita tetap aja bisa jadi antagonis buat orang lain. Dan kalau ada konflik yang menjadi korban itu kedua belah pihak hanya mana aja yang lebih dominan menjadi yang antagonis. Bukan berarti mengeluh itu salah ya. Wajar sih kalau kita merasa dijahati, dilukai, dan menjadi korban. Tetapi ada masanya lebih baik kita mencoba berpikir dari sudut pandang orang lain. Kadang ga selalu kita korbannya, bisa jadi kita menjadi korban karena ulah kita sendiri. Saat kita memiliki mentalitas korban, kita menyalahkan orang lain dan keadaan artinya kita merasa diri kita yang paling benar. Minta dikasihani dan ingin membuat orang lain merasa bersalah sedangkan kita tidak pernah salah apa-apa juga salah satu cirinya.



P .s :

Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar hak cipta atau menyalin karya orang lain.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengeluh karena Sebal

Hal yang Mengganggu "Kenapa sih? Nyebelin deh!" "Ih..Sebel bgt deh" "Dasar annoying" Mungkin ki...