Rabu, 28 Februari 2018

Mango Dessert vs Asinan Mangga

Mango dessert

Beberapa waktu lalu bisnis mango dessert sedang booming. Olahan mangga ini sangat digemari sehingga banyak pengusaha yang menjualnya dengan merek dagang yang berbeda-beda walaupun rasa dan tampilan hampir identik. Sepertinya dessert ini lahir dari thailand dan masuk ke negara-negara sekitarnya. Saya pertama kali mencoba ketika di China dan antriannya memang berjibun, pada saat itu di Indonesia belum masuk. 
                 
                    Suzhou-China
Zhuhai-China
  Dokumentasi pribadi

Saya sendiri memiliki refleksi pribadi dengan ilustrasi buah mangga. Berawal dari kalimat "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu....", saya merasa sudah meminta kepada sang pencipta ingin menjadi mangga dan jadilah saya adalah mangga. Tetapi, ternyata saya itu mangga cengkir bukan mangga harum manis yang berwarna orange tua dan memiliki rasa yang manis. Bukan mangga yang digemari banyak orang, bukan mangga yang  jadi mango dessert itu. 


Mangga itu ada bermacam-macam loh, sebelum bercerita lebih lanjut, mari membahas singkat tentang beberapa jenis mangga yang saya tahu. Setelah googling dan mencari tahu ternyata ada banyak sekali jenis mangga di dunia ini, namun dibawah ini hanya jenis-jenis mangga yang pernah saya makan. Berhubung saya bukan ahli mangga, maaf kalau tidak akurat dan kalau mau beli mangga ada baiknya tanya penjualnya saja itu jenis mangga apa. :p

  • Mangga gedong/ gincu
Sumber : Google Search
Bentuknya lebih bulat dan warna kulitnya kuning kemerahan tidak hijau semua. Rasanya manis, dan karena menempel pada kulitnya dimakan dipotong kotak-kotak seperti di gambar.



  • Mangga harum manis
Sumber : Google Search
Sumber : Google Search
Rasanya manis dan wangi.
Kulitnya hijau tetapi seperti ada siraman gula (entah apa disebutnya)

  • Mangga simanalagi
Sumber : Google Search
Warna kulitnya hijau tetapi lebih pucat. Warna buahnya pun putih dan kuning jarang sekali orange tua.






  • Mangga cengkir / indramayu
Warna kulitnya hijau. Tidak terlalu berserat. Untuk dirujak lebih enak yang masih belum matang. Biasanya saya dapat dari kebun saudara.

Sumber : Google Search
  • Mangga kueni
Sumber : Google Search
Rasanya manis dan asam. Tidak banyak seratnya.









    • Mangga madu

    Sumber : Google Search
    Ukuran buahnya lebih kecil dan gepeng dibanding buah mangga lainnya. Rasanya manis seperti harum manis tetapi banyak serat-seratnya dan nempel dengan kulitnya. Saya mencicipinya ketika di China, sepertinya import dari Thailand.


    Curhatan tentang Mangga

    Dan seperti yang diceritakan diatas, renungan saya malah terinspirasi dari illustrasi mangga. Bukan menjadi mangga harum manis yang dipikiran saya tapi jadi mangga cengkir. Bukan berarti mangga cengkir itu buruk. Mangga cengkir juga enak, manis, serta segala keunggulan lainnya. Hanya saja mangga cengkir tidak semanis dan seharum mangga harum manis. Tapi tahukah kalau mangga yang biasa dibuat asinan atau rujak tidak memakai mangga harum manis? Ya, mangga cengkirlah yang digunakan sebagai mangga asinan atau rujak. Mungkin karena tekstur mangga cengkir lebih keras dibanding harum manis yang lebih lembek.

    Jadi kesimpulannya, saya bukan mangga yang diolah menjadi MANGO DESSERT, tetapi mangga yang diolah menjadi ASINAN/RUJAK MANGGA. 
    Jadi lapar ya, ingin mangga rasanya.

    Bandung-Indonesia
    Kehidupan manusia juga seperti itukan, kita semua sama-sama manusia tapi ada yang membedakan kita. Sama-sama mangga tetapi beda dalamnya jadi beda jenis, beda nama. Manusia memiliki segala keunikan karakteristiknya masing-masing. Kita berbeda satu sama lain. Saudara kembar identik pun berbeda. Kebanyakan dari kita memiliki angan-angan cita-citanya sendiri. Ingin jadi mango dessert yang kece, nge hitzzz, instagramable. Tapi jadinya malah asinan rujak yang mungkin kurang kekinian. 

    Kecewa? Bangeeet!! 

    Sering bertanya-tanya "Kok mereka bisa ya?", "Kok keren ya", "Mau ih begitu". Mulai deh membandingkan diri dan berusaha supaya bisa seperti itu. Tetapi sekeras apapun kita berusaha, kita cuma mangga cengkir yang memberikan totalitas maksimal menjadi asinan/rujak mangga. Mau dipaksa pun ya jadi sih mango dessert tapi tidak total, yang akhirnya kalah bersinar lagi dengan si harum manis. Oh cengkir, cengkir sadarlah kir, jadi asinan/rujak mangga juga enak kok, juara deh.

    Seiring waktu, kalau digambarkan ya, rasanya orang-orang yang mengenal saya melihat saya itu mangga. Dan mangga yang dikira adalah mangga harum manis. Pas dikupas eh ternyata mangga cengkir. Begitulah kira-kira. Mereka kecewa, saya pun kecewa. Sering ngejudge diri kok bukan jadi harum manis sih, dan ngepush diri untuk jadi harum manis. Tapi sekarang saya sadar, saya cuma cengkir dan inilah saya. Mulai agak sabodo teuing. Kalau memang yang mau tahu saya dengan baik ya siap-siap aja ga dapet manisnya dan pasti ga enak diawalnya, sepet jadi harus berusaha dulu deh, tambah bumbu-bumbu dijadiin rujak/asinan. Bukannya mau jual mahal, tetapi dari awal saya ingin mematahkan stigma atau harapan yang menganggap saya ini harum manis. NO! NO! NO!

    Ingin jadi orang kaya

    Untuk generalnya, berapa banyak dari kita yang ingin kaya? Hayo ngaku! Mungkin kita minta sama Tuhan supaya jadi orang kaya. Tapi kok begini-begini aja ya? Tuhan belum ngabulin nih doa saya untuk jadi orang kaya. Eit, belum tentu. Bisa jadi sudah terkabul loh, kita sudah jadi orang kaya.

    "Kaya darimana? Saya belum kebeli mobil loh cuma punya motor"

    "Iya lu ma enak kaya, Hp gue masih nyicil tau ga"

    Bukan saya bermaksud menyinggung ya, maafkan seribu maaf. Bukan mau ngejudge, bukan saya tidak sayang atau menghormati mereka. Tapi saat saya mencoba menghitung berkat, saya menyadari kita itu orang-orang kaya loh, bukan berdasarkan banyaknya saldo di rekening tapi dengan apa yang ada dan yang dimiliki.

    Orang yang belum kebeli mobil, tetapi dia punya motor loh, punya rumah, punya pekerjaan tetap, punya sepasang kaki yang sehat dan normal. Standar kaya yang dibangun adalah PUNYA MOBIL=ORANG KAYA. Lantas bagaimana dengan orang yang tidak punya kendaraan bahkan ga mampu membayar kendaraan umum, yang rumahnya sepetak dari dus atau tidur di emperan jalan trotoar. Menurut saya si CENGKIR sudah termasuk orang kaya meskipun tidak punya mobil. Tapi dia membandingkan dengan si HARUM MANIS yang punya mobil.

    Orang yang masih mencicil HP ini, minimal seminggu dua kali ke cafe dan sering sekali belanja online. Saya tidak bilang dia boros, tetapi itulah caranya menikmati hidupnya, caranya dia menerima berkat. Setiap jatuh tempo waktu bayar cicilan hp, dia stress bingung gali lubang tutup lubang dan damai sukacita dia terenggut karena harus pusing bayar tagihan kartu kredit setiap bulan. Pada akhirnya melampiaskan pada orang lain dengan bilang mereka orang kaya. Jujur saja hp dia yang dulu masih bagus, kenapa dia ganti dengan yang ini sehingga pusing harus mencicil disaat ada banyak keperluan lainnya. Kenapa tidak pakai yang lama dulu dan menabung untuk beli yang baru. Sekali lagi itu hanya pendapat saya saja tetapi dia yang menjalani, dia yang lebih tahu kebutuhannya.

    Jadi apakah yang dimaksud ingin jadi orang kaya dalam doamu? Bisa makan 3x sehari menurut saya sudah termasuk orang kaya.

    "Orang kaya berpikir nanti makan apa, tetapi orang yang kekurangan berpikir nanti bisa makan atau tidak. Orang kaya bisa memilih makan ini atau itu, orang yang kekurangan tidak punya pilihan."

    Bisa jadi kita minta mangga dalam arti menjadi kaya. Tuhan sudah memberi kita banyak mangga-mangga dalam kehidupan kita, tetapi mangga cengkir atau mangga lainnya bukan mangga harum manis. Terima saja jangan ditolak, syukuri, jangan lupa ditambah garam & gula kita jadikan asinan mangga. :)
    Sumber : Google Search

    Baca juga Silent is golden?





    P .s :
    Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar hak cipta atau menyalin karya orang lain.

    Minggu, 11 Februari 2018

    Silent is Golden?


    Diam itu emas?


    Mungkin sering sekali kita mendengar kalimat bijak tersebut. Namun benarkah kalau diam itu emas? Apakah diam itu sesuatu yang berharga sehingga disamakan dengan sebuah logam mulia emas?

    Diam itu emas, karena dengan diam kita tidak memicu pertengkaran. Dengan diam kita meredam emosi tak menyalurkannya. Dengan diam kita mengalah, dengan diam kita menyadari kita lebih baik daripada tong kosong nyaring bunyinya.

    Sesabar apapun manusia, kalau disakiti terus menerus pasti ada batasan kesabarannya. Mungkin dia akan tetap diam tapi hatinya menangis dan bisa jadi ketika meledak, bersiap-siaplah.

    Diam bukan berarti tidak ada yang ingin dikatakan.

    Ada banyak sekali keluhan yang tak terucap, bingung mau mulai dari mana, takut menyinggung dan melukai perasaan orang lain, atau selalu disalahkan tidak pernah benar. Lambat laun menjadi seorang yang pendiam karena tidak ada yang mendengar, bahkan diri kita sendiri pun tidak mendengar. Contohnya saja, saat kita membutuhkan sesuatu dari seseorang, lalu ternyata orang tersebut sedang sibuk, dan kita akan diam dan tidak jadi mengutarakan keperluan kita. Kita berdalih dan mengatakan pada diri sendiri "Ya sudah, tidak apa-apa. Saya bisa sendiri meski diluar batas kemampuan saya, dia sibuk, jangan merepotkannya". Terjadi berulang-ulang, lagi dan lagi, maka akhirnya kita hanya akan diam dihadapan orang tersebut karena tidak mau merepotkannya.

    Menurut saya pribadi, diam tidak selalu emas. Karena terbiasa diam, saya kesulitan mengungkapkan apa yang menjadi keinginan saya. Dengan diam saya lebih menyenangkan banyak orang dibandingkan bersuara dan akhirnya mengecewakan diri sendiri.



    Sedari kecil, saya dididik untuk tidak rewel dalam urusan makan. Saya akui, saya memang tidak sulit dalam hal makanan, saya suka segala baik sayur maupun daging. Sekalipun tidak suka kalau memang harus dimakan ya pasti dimakan juga. Dan pantang menyisakan makanan jadi kenyang pun piring saya akan bersih. Setiap ditanya "Mau makan apa?", saya lebih memilih diam atau terserah. Karena saya memang tidak masalah makan apapun. Kalau saya bilang mau pizza pasti ditolak, saya ingin spagetti pasti dibilang makan mie kocok lebih enak. Makan kesana atau kesini boleh yang mana juga tidak apa-apa. Jadi bukankah lebih baik diam? Dengan diam saya menyenangkan orang lain.

    Banyak juga yang bilang saya ini pendengar yang baik. Ketika seseorang bercerita umumnya mereka hanya ingin didengar dan kemampuan saya untuk diam memang patut dipuji. Hanya pada saat diminta saran mungkin saya akan mengucapkan kata bijak karena saya melihat dari sudut pandang lain mungkin atau karena sering mendengar cerita orang. Tetapi yang perlu digaris bawahi dan menjadi refleksi bagi diri saya sendiri adalah orang-orang bisa bercerita banyak hal bahkan masalahnya pada orang lainnya termasuk pada saya namun mengapa buat saya itu adalah hal sulit. Karena terbiasa diam ketika ditanya "lu sendiri gimana" ; "ada cerita apa?" entah apa yang harus saya lakukan. Mulutku membisu dan otak ini bingung perlu atau tidak menceritakan segalanya. Sangking lamanya berpikir cerita atau tidak, ya moment untuk bercerita sudah terlewat.

    Ketika sudah percaya pada seseorang, saya akan sangat cerewet. Segala hal ingin saya ceritakan baik cerita geje, cerita senang, cerita sedih, keluhan serta masalah. Orang-orang seperti ini sangat jarang, bisa dihitung jari. Umumnya saya memilah-milah, untuk cerita ini lebih nyaman dengan orang ini, dan cerita yang lain dengan orang yang lain. Lucunya ketika saya cerita dengan orang yang tidak dekat biasanya berakhir dengan saya yang mendengarkan curhat orang tersebut. Kalau kita saling cerita, itu sangat menyenangkan bisa sharing bersama, saling menguatkan, tertawa menangis bareng, jadi masukan untuk diri masing-masing belum lagi kalu berdebat dan bertukar pikiran.

    Ada banyak hal juga yang membuat saya sulit membuka diri. Tetapi ketika saya bercerita banyak, rasanya ingin juga mendengar kisah orang tersebut untuk saling mengenal dan lebih memahami, Tetapi pikiran saya sering kali menghambat. Takutnya ketika saya menceritakan masalah, orang tersebut sedang bahagia dan kisah saya malah membuatnya bersimpatik dan tidak jadi membanggakan kisahnya. Atau ketika saya senang dan menceritakannya, orang tersebut sedang dirundung masalah sehingga dia tidak mau saya ikut bersedih pada masalahnya sehingga dia memilih diam.

    Pengalaman pribadi saya juga membuat saya merasa diam itu lebih baik meskipun tidak bisa dibenarkan, Sewaktu kuliah di China, saya beberapa kali ke bar bersama teman-teman internasional lainnya. Saya itu disayang sekali oleh teman-teman asing, mereka tahu saya anak baik dan mereka menjaga saya. Jujur saja malah teman dari Indonesia yang menawari saya minum minuman beralkohol. Teman dari luar malah menyarankan saya minum jus bahkan ada yang menawarkan diri meminum bir yang diberikan pada saya. Intinya saya dilarang minum oleh mereka.

    Saya takjub pada teman sekelas french girl yang menari mengikuti musik, dia menarik saya dan mengajak menari. Tapi saya malu sehingga hanya terdiam, lagi-lagi saya diam. Bukannya tidak bisa menari, tapi saya diam karena malu. Takut gerakan saya aneh atau kaku, padahal kalau saya sedang sendiri di kamar terkadang sambil mendengarkan musik pun joget-joget ga jelas. Sesuatu hal yang hanya biasa kulakukan saat sendiri, kalau ada yang lihat ya diam.
    Saya menceritakan ini pada mama saya melalui WA, dan tentu saja saya dimarahi, HAHAHA. Mengikuti komsel persekutuan gereja dan karena tempat tinggal saya cukup jauh dengan tempat berkumpul saya baru pulang jam 11 malam, itupun dimarahi karena saya bilang baru pulang. Cerita kalau saya ikut pelayanan doa keliling pun dimarahi karena takut nanti diciduk oleh pemerintah sana. Mengirimkan foto makanan pun diomeli untuk tidak makan yang seperti itu, tidak sehat. Akhirnya saya memilih diam. Tidak cerita apa-apa, kecuali ditanya.

    Rasanya sulit untuk menjawab diam itu baik atau tidak. Disatu sisi baik, disisi lain juga tidak. Seorang istri yang kecewa karena suaminya tidak pernah mengingat ulang tahun pernikahan mereka, maka selama bertahun-tahun pernikahan mereka sang istri kecewa. Dibandingkan diam dan menunggu suatu hari sang suami akan peka, apabila sang istri tidak diam tetapi mengungkapkan, bukankah ditahun berikutnya ada kemungkinanan ia tidak akan kecewa pada hari ulang tahun pernikahannya. Saat ada masalah dan memilih diam dan tak menyelesaikannya bukannya hanya menumpuk saja, tetapi ditumpuk dan didiamkan pun terkadang jadi pilihan yang baik agar tidak terjadi konflik.

    Jadi apakah diam itu emas?
    Silahkan untuk menulis jawaban anda di kolom comment. Thank you.


    P .s :
    Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

    Minggu, 28 Januari 2018

    Minta Tolong atau Menyuruh?


    "Menyuruh dan minta tolong adalah dua hal yang berbeda jauh, namun seringkali disamakan."


    Seberapa sering anda meminta orang lain untuk membantu? Apakah anda memang tidak mampu melakukannya sendiri? Ataukah sudah menjadi kebiasaan dan kita menjadi tergantung pada orang tersebut.

    Jangan merasa tertuduh, tapi ada baiknya kita saling memeriksa diri. Atau mungkin tanpa disadari malah kita adalah orang yang merasa menolong tetapi sang peminta bukan meminta tolong melainkan menyuruh. Artinya kita melakukan apa yang disuruh orang lain bukannya menolong. Orang tersebut mungkin mampu melakukannya, tidak memerlukan bantuan orang lain, hanya saja MALAS.

    Yap, benar sekali. Untuk apa repot-repot bersusah-susah kalau ada cara gampang. Bukankah begitu? Untuk apa turun dari sofa untuk mengambil remote TV kalau bisa menyuruh seseorang mengambilkannya, Disinilah perbedaannya, kalau memang kebetulan ada sesorang yang sedang berada dalam posisi lebih dekat dengan remote, maka wajar saja bila kita meminta tolong diambilkan. Tetapi, bagaimana jika orang lain sedang sibuk mengerjakan hal lain, anggap saja sedang memasak lalu dipanggil-panggil untuk mengambil remote. Orang tersebut memasak bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk seseorang yang sedang bersantai ria diatas sofa sambil menonton TV. Beda ceritanya kalau yang menonton TV sedang cedera parah sehingga tidak bisa berjalan. Ini dinamakan minta tolong.

    Prinsip dasarnya adalah ketika kita meminta tolong pada orang lain artinya kita mengakui kelemahan kita, keterbatasan, ketidakmampuan kita sehingga butuh sarana pendukung lainnya. Dengan begitu kita mengakui pula bahwa orang lain terutama yang kita mintai tolong adalah orang yang lebih mampu atau memiliki kemampuan untuk mengerjakan hal yang kita perlukan.

    Ketika atasan memberikan pekerjaan bisa jadi beliau bukan menyuruh, tetapi menyadari kalau dirinya tidak mampu mengerjakan hal tersebut (mungkin masalah waktu atau ada banyak pekerjaan lain) dan mengakui kemampuan anda untuk mengerjakannya. Mungkinkah seseorang memberikan tugas pada orang yang menurutnya tidak mampu dan hanya akan mengacaukan, sepertinya tidak. Dan kalau akhirnya sang bos marah-marah mungkin karena ekspektasi beliau terlalu tinggi, beliau sudah berharap banyak kalau pekerjaan tersebut akan seperti keinginannya tetapi nyatanya tidak. Lantas kita akan bilang, kalau begitu atasan saja yang buat, sehingga pasti sesuai kemauannya. Seorang pemimpin yang baik akan mendelegasikan pekerjaannya kepada bawahannya bukan mengerjakan semuanya sendirian, karena semakin tinggi jabatan seseorang maka kapasitas  tanggung jawab dan beban pekerjaannya lebih tinggi. Tetapi saya mengakui kalau penyampaiannya memang seperti menyuruh belum lagi beruntut. Satu pekerjaan belum selesai sudah diberikan lagi tugas lainnya.

    Penolong yang Sepadan

     Sumber : Google Search

    Dalam hal mencari pasangan hidup, saya lebih suka menggunakan kata mencari penolong yang sepadan. Alasannya karena menjadi penolong bukanlah hal yang mudah. Tidak ada manusia yang sempurna, karena itu kita perlu pertolongan dan dalam mencintai action yang utama adalah bagaimana kita dapat menolong pasangan kita bukannya minta ditolong. Kalau saling minta ditolong ya bagaimana jadinya, seharusnya saling menolong. Bukan meminta tetapi memberi.

    Mana yang mendatangkan pujian, sang pacar yang selalu meminta dijemput diantar-antar ataukah pacar yang selalu mau mengantar dan menjemput tanpa diminta. Orang cenderung akan berkata pacar yang baik karena selalu mau antar-jemput. Lalu apa kamu mau pacarmu disebut pacar yang rese manja selalu minta diantar-jemput. Kalau memang tidak bisa antar-jemput jelaskan alasannya. Pacaran yang dewasa pasti akan saling mengerti, pacar bukanlah supir antar-jemput.

    Mau pacar yang pengertian atau yang selalu minta dimengerti? Jadilah pengertian dulu sebelum minta dimengerti. Tapi perlu untuk terbuka dan menyampaikan isi hati, jangan main tebak-tebakan. Tidak ada seorangpun yang bisa membaca pikiran dan menebak isi hati manusia. Peramal saja tidak akan selalu benar menebak, kecuali kamu memang memiliki kekuatan indra keenam dan sebagainya.

    Saya punya cerita ketika sedang mengerjakan tugas didepan laptop dan saya mengeluh tetapi respon dua teman saya berbeda. Mungkin bisa menjadi contoh penolong yang sepadan.

    Saya             : "Ini gimana sih? Susah amat, ga ngerti."
    Teman 1       : "Udah kirimin aja ke email gue ntar gue yang kerjain."
    Teman 2       : "Kerjain dulu aja sebisanya, yang ga ngerti tanya gue."

    Sebagian orang memilih jalan pintas dan menyukai teman 1, tapi buat saya poin plus buat teman 2. Buat saya teman 2 lah yang merupakan penolong yang sepadan. Dia tahu saya mampu hanya sedang butuh dukungan, sedang moody, sedang mumet, sedang lelah, sedang malas dan bosan berkutat dengan tugas tersebut. Pada akhirnya saya menyelesaikan tugas tersebut sendiri. Intinya saya memerlukan waktu yang lama untuk mencerna bagaimana cara mengerjakan tugas tersebut bukan tidak bisa sama sekali. Kalaupun sudah mentok dan saya minta bantuan diajarkan oleh teman 2 sampai mengerti. Sedangkan teman 1 hanya akan memberikan saya jawaban tanpa menjelaskan sehingga ketika menemui masalah yang sama saya harus mencari teman 1 lagi. 

    Baik teman 1 dan teman 2 keduanya bermaksud baik dan ingin menolong. Tetapi caranya berbeda. Jujur saja saya ada menaruh hati pada teman 2. Dia mungkin penolong yang sepadan untuk saya, Namun sayangnya, sayalah yang bukan penolong yang sepadan baginya. HAHAHAHA (menertawakan diri sendiri, tapi saya sadar)

    Banyak orang yang datang dan pergi dalam setiap kehidupan. Saya sendiri mungkin juga beberapa kali dianggap penolong yang sepadan untuk seseorang. Tetapi mereka bukan penolong yang sepadan untuk saya. Alasannya karena ekspekasi mereka yang terlalu tinggi pada saya. Terlalu melebih-lebihkan dan akhirnya mereka kecewa sendiri saat tahu saya yang sebenarnya dan mereka tak mampu menolong saya.

    Endingnya jadi curhat deh, diakhiri saja ya sebelum jadi bergalau-galau ria. Terimakasih sudah membaca.


    Baca juga  : https://la-lilyofthevalley.blogspot.co.id/2018/01/terjepit-diantara-dua-pilihan.html
    P .s :

    Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

    Minggu, 14 Januari 2018

    Rain and Tears


    Lagu Rain and Tears


    Courtesy Youtube

    Saya sering sekali mendengar lagu-lagu lama atau golden memory milik papa sampai terkadang hafal liriknya. Dan lagu ini salah satu lagu sendu yang saya suka. Untuk yang belum pernah mendengar bisa dengarkan dulu ya.

    Judul : Rain and Tears (Hujan Dan Air Mata)
    Penyanyi : Demis Roussos


    EnglishIndonesia
    Rain and tears are the same
    But in the sun you've got to play the game
    When you cry in winter time
    You can pretend it's nothing but the rain

    How many times I've seen
    Tears coming from your blue eyes
    Rain and tears are the same
    But in the sun you've got to play the game

    Give me an uncertain love
    I need an uncertain love

    Rain and tears in the sun
    But in your heart you feel the rainbow waves

    Rain or tears both are shown
    For in my heart there'll never be a sun
    Rain and tears are the same
    But in the sun you've got to play the game
    Hujan dan air mata itu sama
    Tapi di bawah matahari kau harus memainkan permainan
    Ketika kau menangis di musim dingin
    Kau bisa berpura-pura itu bukan apa-apa selain hujan

    Berapa kali aku banyak melihat
    Air mata keluar dari mata birumu
    Hujan dan air mata itu sama
    Tapi di bawah matahari kau harus memainkan permainan

    Berikan aku sebuah cinta yang tidak menentu
    Aku membutuhkan sebuah cinta yang tidak menentu

    Hujan dan air mata di bawah matahari
    Tapi di dalam hatimu kau merasakan gelombang pelangi

    Hujan atau air mata keduanya itu tampak
    Karena di dalam hatiku tidak akan pernah ada sebuah matahari
    Hujan dan air mata itu sama
    Tapi di bawah matahari kau harus memainkan permainan

     Diambil dari http://lirikterjemahan.blogspot.co.id/2016/04/demis-roussos-rain-and-tears.html

    My Story

    Ketika hari hujan dan mau pergi, apa yg biasanya dilakukan? 

    Tidak jadi pergi? 

    Membawa payung? 

    Atau koran pun jadi asal menutupi kepala.

    Kita mencoba mencari sesuatu kan, untuk MELINDUNGI DIRI supaya tidak kehujanan, tidak basah.☔ 
    Sekalipun sudah memakai payung dan jas hujan, bukankah HUJAN TETAP TURUN? 
    Itu faktanya dan payung tetap tak merubah cuaca, hanya melindungi kita.🌧️⛈️ 
         Dokumentasi pribadi hasil karya penulis

    Saat turun hujan dalam kehidupan, akupun bersiap dengan payung dan segala yg kumiliki.
    Menahan agar tidak menangis, untuk tidak terlihat lemah. Rain and tears.
    Untuk segala hal, aku sudah terbiasa bilang 'ga apa apa' padahal 'ada apa apa' ,
    'iya oke' yg sebenernya 'ga mau' , 'ga masalah koq' padahal 'memang bermasalah' .
    Selalu mencoba melihat hal baiknya, mengulang-ulang dan bilang pada diri sendiri : 
    bersyukur loh kan begini dan begitu, untung banget dan kalimat-kalimat positif lainnya.

    Dan, hari ini mencapai limitnya~ apa aku benar2 bersyukur?? Tidak.

    Aku hanya MENGHIBUR DIRI, MEMBOHONGI & MENIPU DIRI SENDIRI. 
    Aku tidak mengakui kalau aku terluka, aku mengatakan sebaliknya. 
    SAKIT tapi aku bilang TIDAK SAKIT, jadi luka nya tidak diobati karna aku merasa baik-baik saja.

    Orang2 yang merasa mengerti, ngerti dengan melebih-lebihkannya, inginnya mengobati tapi
    memperparah lukaku, mau menguatkan malah rasanya nambahin kebohongan untuk lebih menipu diri lagi sih ya.
    Lalu minta upah dengan menuntut ini dan itu, merasa dirinya berjasa.

    Makasih loh niat baiknya kuterima tapi kebaikan yg diberi itu tidak baik buatku, kaya obat yg tidak tepat,
    tidak cocok malah tidak sembuh-sembuh dan jadi tambah sakit kan. Seperti saya itu alergi debu dan bulu
    binatang tetapi saya merasa tidak merasa alergi, dan tetap bermain dengan hewan peliharaan, lalu ketika saya
    bersin-bersin diberi obat pilek. Tetap saja tidak sembuh karena penyakit nya bukanlah infuenza. (Hanya contoh,
    tetapi saya memang benar alergi kedua hal tersebut)

    Banyak sekali dukungan dan orang-orang yang peduli pada saya. Untuk itu saya sangat bersyukur dan
    berterimakasih, hanya saja ada masanya karena terlalu banyak maka saya merasa lelah dan terganggu.
    Saya sangat sangat menghargai ketulusan dan kepedulian dari setiap orang, namun satu hal yang membuat
    saya lelah karena TIDAK SEMUA ORANG TULUS DAN PERDULI. Mengapa saya bisa bicara seperti itu?
    Karena kita harus bisa membedakan mana perhatian yang tulus dan mana perhatian KEPO. Perhatian yang KEPO
    pun terlihat dan terasa tulus, tetapi dasarnya bukanlah 'kasih' melainkan hanya 'penasaran'. Yang mengasihi
    adakan melakukan action sedangkan penasaran hanya bertanya. Memang ada kala nya yang bertanya pun tidak
    tahu harus merespon apa sehingga bingung bagaimana ingin membantu. Saya tidak ingin mengeneralisasi akan
    sesuatu karena banyak kemungkinan.

    Hal yang saat ini paling kurang saya sukai adalah ketika orang-orang mengatakan "Kamu bisa,
    kamu kuat". Strong girl istilahnya. Mungkin itu memotivasi ya, sebuah kalimat positif. Tetapi apa jadinya kalau
    saya sudah berusaha mati-matian tetap menemui kendala dan semua orang mengatakan hal tersebut, lelah.
    Rasanya kalimat positif itu berubah menjadi tekanan, sebuah tuntutan. AKu tidak sekuat itu dan akupun
    memiliki banyak kelemahan. Beruntungnya diriku ini, meskipun hanya sedikit, tapi kehadiran orang yang
    mengatakan "Kamu bisa, coba dulu, kalau memang tidak bisa biar kubantu", "Kamu tidak harus
    menghadapinya sendiri, kalau ada apa-apa kasih tahu","Kamu berusaha terlalu keras,
    coba istirahat dulu, pelan-pelan saja". Orang-orang seperti ini sangat jarang. Biasanya mereka
    adalah orang-orang yang jauh. Karena orang-orang yang dekat denganku melihat diriku yang tampak
    baik-baik saja, sedangkan yang jauh mungkin merasakan jeritan yang tidak terdengar, efek gema mungkin ya.

    Kalau aku lebih jujur dan terbuka lagi, apakah semua orang bisa melihat diriku apa adanya bukan ada
    apa-apanya? Saat ini perasaanku sedang hujan, tetapi saat nanti matahari muncul, mungkin aku harus kembali
    memainkan peran strong girlRain and tears are the same, But in the sun you've got to play the game. 


    P .s :

    Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

    Kamis, 11 Januari 2018

    Aku dan Langit


    Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya.--- Mazmur 19:2


    No filter needed ❣️🌆

    Selalu suka sama caranya Tuhan untuk menghiburku. Dikasih langit begini langsung melting deh, mengeluh pun lupa, capai, beban, sampai mood langsung membaik seketika. Bersyukur dan terharu. Tuhan kasih mata buat melihat banyak hal indah, dan mata itu menurutku adalah lensa terbaik! ðŸ“·
    Karena mau pake kamera dengan lensa sebaik apapun juga tetep tidak seindah 'melihat dengan mata kepala sendiri'. Tidak perlu untuk mengatur ISO atau memilih-milih filter sudah cukup yang di depan mata, warnanya itu indah. Dari semua foto ini tetap indah aslinya. Semuanya difoto menggunakan hp xiaomi 4s. Hp loh bukan kamera.

    Harus liburan? Tidak juga, ini dijepret ketika sedang bermacet-macet ria, ribut ingin ngambil hp yang disimpan dalam tas karena ingin memotret tetapi dalam posisi supir yang nyetir sampai ditegur papaku. Ada juga foto yang kupotret ketika jalan kaki juga.

    Bersyukur itu tidak mudah, mungkin baru puas kalau dapat tas branded, bisa membeli mobil, bisa memiliki gadget terbaru dan hal-hal 'wah' lainnya. 

    SO KAPAN TERAKHIR KALI MELIHAT LANGIT??

    Jangan cuma liat ketika mendung dan mendumel 'Yah kayany bakal hujan, ga bawa payung, yah repot blablabla'
    Pas lagi cerah langit biru bersih tidak pernah dilirik.

    Papaku juga ngomong 'Ngapain si kamu, kurang kerjaan, langit doang juga, cari duit blablabla...*wejangan-wejangan'. 

    Makasih pa, tapi anakmu ini mungkin memang terlalu gampangan, cuma karna langit aja aku lebih bahagia dibanding makan steak ato sushi. Enak sih, mahal juga iya tp cuma dimakan kenyang ya sudah. Malah indomie lebih bikin ketagihan, kecium wanginya saja langsung laper dan baper. 

    Langit seperti ini tidak akan ditemukan yang sama untuk kedua kali. Alam itu super duper deh nyeninya dan penciptanya itu pelukis handal. SALUT!

    "Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi." --- Mazmur 124 : 8

    Lalu mencoba melukis langit yang indah tapi tidak berhasil, sejadinya saja dan menulis ayat favorit : 


    'Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.' --- AMSAL 23 : 18


    Jadi motivasi loh, tiap liat langit kaya diingetin dan dikuatin sama ayat ini. 

    Semoga memberkati. 

    LA

    Senin, 08 Januari 2018

    Terjepit Diantara Dua Pilihan


    Pilih yang ini salah, pilih yang itu pun salah. 

    Jadi harus bagaimana??

    Sumber : Google Search

    Pernahkah kalian bertemu orang yang tidak bisa mengambil keputusan? Sering kali lamban dan plin-plan dalam memutuskan sesuatu? Dalam kehidupan tentunya ada banyak sekali pilihan yang akan muncul dan mengharuskan kita untuk mengambil keputusan. Keputusan mana yang harus dipilih? Tentu saja ada baik dan buruknya karna setiap keputusan yang kita ambil ada konsekuensi dan hasil yang berbeda didalamnya. 

    Misalnya kita bingung membeli baju warna merah atau biru. Apabila kita tak bisa memutuskan karna menyukai keduanya dan berakhir membeli keduanya, menurut saya itupun kurang baik. Bukankah menjadi pemborosan, apakah kita benar-benar perlu dua baju dengan model yang sama. Sama halnya ketika kita tak bisa memutuskan menu makanan yang akan kita pesan, apakah akan berakhir dengan memesan keduanya?

    Saat berada dalam persimpangan dan harus memilih sering kali kita meminta bantuan orang lain untuk membantu memutuskan. Disinilah permasalahan yang sering terjadi. Masukan-masukan dari orang lain bisa kita gunakan sebagai bahan pertimbangan, bukan menjadi penentu mutlak. Jika terlalu bergantung pada keputusan orang lain nantinya kita akan apatis dan tak memiliki keberanian untuk memilih. Dengarkanlah masukan orang lain karena mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda yang mungkin membantu kita dengan pemikiran yang lebih luas. Tetapi perlu diingat bahwa keputusan ada di tangan kita bukan orang lain. Jadi apapun yang terjadi nantinya kita tidak akan menyesal dan menyalahkan orang lain.

    Berbagi kisah pribadi yang mungkin bisa menjadi pembelajaran bagi dunia parenting. Setiap anak belajar dari keluarga bukan, karakter dan kebiasaannya dibentuk oleh lingkungan yang terdekatnya. Saya sendiri sering kali merasa sulit untuk mengambil keputusan. Setelah lama sekali plinplan akhirnya memutuskan sesuatu dan akhirnya akan menyesal mengapa tidak memilih pilihan yang satunya. Dan selalu bersikap netral atau golput (golongan putih : tidak menggunakan hak suaranya untuk memilih). Selidik punya selidik ternyata terbentuk karena kedua orangtua saya.

    Sedari kecil saya selalu harus memilih mama atau papa. Saya papa berkata ya, mama berkata tidak. Saat papa berkata tidak, mama berkata boleh. Bukankah itu membingungkan seorang anak? Sehingga saya mengambil kesimpulan kalau melakukan ini bersama papa boleh sedangkan ini tidak akan saya lakukan di depan mama. Banyak sekali hal yang membuat saya bingung. Mana yang benar? Perkataan papa atau mama yang harus saya turuti.

    Ketika saya sudah bisa menyetir, sering kali terjadi percekcokan di perjalanan. Papa berkata belok kanan dan mama meminta saya belok kiri. Jika saya mengikuti papa, lalu terjebak macet maka mama akan menyalahkan saya tidak mendengarkan beliau. Begitu sebaliknya. Karena saya bandel, terkadang saya memilih lurus saja dan nantinya diomeli oleh keduanya. Tapi perasaan dimarahi keduanya lebih mending daripada mengecewakan salah satunya.

    Saya pun pernah ditegur untuk bisa memutuskan sendiri tanpa harus bertanya pada mereka. Tetapi itu pun saya dimarahi karena keputusan saja. Kisahnya ketika memesan tiket pesawat, sebelum memilihpun saya sudah bisa menebak skenario apa yang akan terjadi.

    • Skenario A : Pasti akan diomeli karena memilih penerbangan pukul 8.00 pagi hanya karna harganya yang murah. Karena 2 jam sebelum penerbangan kami sudah harus tiba di airport belum lagi perjalanan tentunya harus bangun jam-jam subuh. Saya akan dibilang pelit.
    • Skenario B : Pasti akan dimarahi karena memilih harga lebih mahal dan penerbangan yang "terlalu siang" pukul 11.00 . Saya akan dibilang boros tidak bisa berhemat.

    Dengan pertimbangan saya malas bangun pagi dan nantinya sulit mencari transport ke bandara pagi-pagi, maka dipilihlah skenario B. Dan terjadilah sesuai yang sudah saya perkirakan. Jadi mungkin yang diinginkan adalah harga murah dan penerbangan sekitar pukul 10 pagi, hmm mungkin saya perlu memiliki perusahaan penerbangan sendiri agar tidak kena omelan.

    Memilih penginapan pun sama, ingin yang ada toilet di dalam dengan konsekuensi tentunya harganya lebih mahal dibanding yang toilet di luar. Lalu kamar harus yang ada jendela karena ada AC saja tidak cukup untuk sirkulasi udara yang baik. Saya berhasil menemukan sesuai kriteria diatas lalu apa omelannya? Feng shui-nya kurang bagus karena letak kamarnya yang berhadapan dengan jalan. Oaaalah, ingin rasanya mengaruk-garuk tembok atau menggigit lemari. Kalau sudah seperti itu, saya ingin menyerahkan tanggung jawab untuk memilih pada yang bersangkutan saja sehingga saya tidak akan disalahkan. 

    Kisah saya tersebut mungkin saja bisa menjadi contoh mengapa ada orang-orang yang sulit membuat keputusan. Kita tidak tahu apa pengalaman dan bahan pertimbangan orang tersebut karena mungkin dampak yang dirasakan si pembuat  keputusan berbeda dengan apa yang kita kira. Saran saya untuk yang sering bingung membeli sesuatu karna warnanya, cobalah melihat segi lainnya. Seperti warna apa yang lebih sedikit anda miliki. Kecocokan dengan warna kulit, mana yang terlihat lebih segar atau manis untuk anda. Lalu akan dipadupadankan dengan apa bawahannya, tas atau sepatu. Begitupula jika memesan makanan, anda bisa memutukan berdasarkan analisa singkat mengenai harga, bahannya, dan bisa berfikir untuk mencoba menu satunya dikedatangan yang berikutnya.

    Bagi yang sudah berkeluarga maupun belum, usahakan untuk sepaham dalam mendidik anak, agar sang anak tidak kebingungan dan nantinya sulit membuat keputusan untuk hal-hal yang sifatnya mungkin sepele. Di masa depannya, akan banyak pilihan-pilihan yang harus dibuat, jadi berilah kepercayaan bagi sang anak untuk dapat memilih. Juga melatihnya untuk berani bertanggungjawab dan menanggung konsekuensi atas pilihannya tersebut. Konsekuensi itu tidak selalu buruk bisa juga hal baik, yang diperlukan adalah dukungan dan pengertian mengapa keputusan itu yang diambil bukan pilihan yang lainnya.

    Jika anda sedang berada diposisi terjepit diantara dua pilihan, cobalah untuk memilih salah satunya. Pilih yang menurut anda lebih sedikit resikonya. Ingat, kedua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tidak ada pilihan yang lebih benar, karena kalau ada anda tidak akan bingung memilih. Jika harus memilih kebenaran atau yang bukan, kembali lagi pada anda. Tetapi yang benar umumnya benar, jika kita memilih yang salah maka akan salah dan nantinya percaya atau tidak anda akan kembali ke titik yang sama untuk dibelokan ke arah yang benar. Bila anda mampu membuat pilihan ketiga yang lebih baik, bisa dicoba namun perlu diingat pilihan ketiga bukanlah lari (tidak memutuskan). Saat anda memilih lari, maka dua pilihan itu akan tetap mengejar anda untuk dipilih.


    Terimakasih sudah membaca. Salam LA :)

    Baca juga https://la-lilyofthevalley.blogspot.co.id/2018/01/tahun-baru-resolusi-baru-apa-kabar.html

    P .s :
    Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

    Selasa, 02 Januari 2018

    Tahun Baru, Resolusi Baru? Apa kabar resolusi tahun lalu?




    Selamat Tahun Baru, semua! Berbicara soal tahun baru, tentunya banyak hal-hal baru yang menunggu kita di tahun yang baru ini. Mungkin ada target-target yang belum tercapai di tahun sebelumnya dan ingin dilanjutkan di tahun ini. Saat tahun baru biasanya kita merenungkan apa yang telah kita lalui selama setahun. Perayaan tahun baru pun diwarnai dengan euforia kegembiraan lainnya.

    Hidup Kita dan Kembang Api 


    Saya pribadi lebih menyukai melihat kembang api dibandingkan aktivitas meniup terompet bahkan terkadang terganggu dengan bisingnya suara terompet. Saat melihat kembang api ada dua pemikiran yang terlintas. Pertama, sebagai lulusan jurusan ekonomi atau mungkin pada dasarnya saya pelit, saya menghitung-hitung cost yang dihabiskan seluruh umat manusia diatas bumi ini. Coba bayangkan saja, dalam satu kota ada berapa titik pesta kembang api? Rata-rata hotel dan pusat perbelanjaan mengadakannya untuk menarik jumlah pengunjung ditambah dengan perorangan. Dalam waktu singkat sekitar 15 menit ada berapa banyak "uang yang dibakar" dalam arti uang yang digunakan untuk membeli kembang api.
    Kedua, dalam hidup kita pun seringkali menemukan kembang api - kembang api. Terlihat indah dan cantik tapi hanya dalam waktu yang singkat. Kebahagiaan itu seperti itu, mungkin saat ini kita senang tapi beberapa menit kemudian kesenangan itu hilang. Hari berganti hari dan semangat pun kian meredup,

    Kembang api telah mekar di langit, tahun yang lalu sudah berakhir dengan segala hal-hal baik suka maupun duka tapi tetap harus kita syukuri. Banggalah karna anda sudah berhasil melewatinya. Dan sekarang di awal tahun kita sedang meluncurkan kembang api baru yang kita tak tahu akan mekar seindah apa, selama apa dan sebanyak apakah dia.

    Resolusi 

    Setiap awal tahun selain merefleksikan setahun ke belakang tentunya akan banyak yang bertanya apa resolusi tahun ini. Berdasarkan pengalaman resolusi itu seperti target atau harapan yang ingin dicapai dan rata-rata saya gagal melakukannya. Bukan karna resolusi saya yang mengada-ada dan memiliki standar tinggi untuk dicapai, melainkan resolusi saya kurang jelas. Contohnya salah satu resolusi saya di tahun lalu adalah memperbaiki jam tidur. Dan tentunya mutlak gagal saya lakukan karena itu hanyalah keinginan saja, tetapi praktek itu sulit karena ada berbagai hal dan kebiasaan insomnia tentunya tak mudah dirubah. Pola hidup dan aktivitas saya harus dirubah demi mewujudkan jam tidur yang baik, namun saya tak mampu merubahnya karena menyangkut orang lain dan lingkungan sekitar.
    Resolusinya ingin punya usaha, tapi modalnya tak ada belum lagi ide bisnis saja tak cukup perlu kenekatan untuk mewujudkannya. Buat saya pribadi kendalanya adalah waktu dan dukungan orangtua. Bagaimana mau memulai kalau ide-ide saya selalu dibilang tidak akan berhasil dan lain sebagainya. Mungkin memang benar mereka lebih berpengalaman dari saya da memberi nasihat yang baik, namun terkadang orang tua tidak ingin anaknya terjatuh sehingga tidak mengizinkan sang anak belajar berjalan. Banyak orang-orang sukses yang saya tahu dahulunya bermodal nekat bahkan melawan orang tuanya, dan sekarang ketika berhasil sang orangtua bangga sekali. Bayangkan kalau ketika pada masa itu sang ortu juga mendukung, tapi ya memang dalam hidup tidak ada yang mudah mulus dan lancar sih. Manusia itu berkembang ketika dalam tekanan dan menjadi malas ketika tidak ada yang menekan.

    Resolusi saya di tahun ini saya ambil dari 1 Tesalonika 5 : 17 ; "Tetaplah Berdoa." 

    Ayat yang sangat singkat tapi ini sulit dilakukan. Berdoa itu adalah hal yang universal, semua orang bisa melakukannya menurut kepercayaannya masing-masing. Berdoa itu bukanlah hal yang mudah. Terkadang kita lupa dan menyepelekannya. Doa yang menjadi rutinitas pun kadang berubah jadi seperti hafalan saja. Kalau saya terkadang tak ingin berdoa karena akan menangis tersedu-sedu. Merasa saya masih mampu menjalaninya tanpa perlu ngadu pada Tuhan. Kalau digambarkan itu seperti saya sedang curhat pada orang yang saya percayai, Kita akan terlihat baik-baik saja didepan semua orang bukan? Tapi didepan orang yang anda percayai, segala permasalahan atau hal-hal kecil pun bisa menjadi curhatan. 

    Untuk kasus saya sih, saya jarang sekali mengeluh, emosi pun bisa ditahan dan kesabaran yang terkadang tidak jelas batasannya, tapi pada pribadi yang saya percayai keluarlah itu semua. Hanya sedikit orang yang tahu diri saya yang ini dan beberapa dari mereka malah menjauh dan merasa kalau saya ini hanya tukang mengeluh, padahal saya tak mengeluh pada siapapun hanya padanya. Kasihan sih sebenarnya, karena orang tersebut seperti tong sampah tempat saya membuang keluh dan kesah, tapi percayalah kalau orang ini adalah orang yang special bagi saya kalau tidak ya mana mungkin saya melakukan hal tersebut. Dan manusia itu mengecewakan tetapi Tuhan tidak. Dia bahkan tau keluhan dan permasalahan yang saya hadapi. Itulah sebabnya, ketika mau berdoa. Sebelum kata-kata terucap tangis saya sudah pecah duluan, seakan-akan Tuhan berkata "Ya, Aku tahu, Aku mengerti". Kalau sudah menangis seperti itu mata saya akan bengkak belum lagi pada saat menangis orang disekitar saya akan menanyakan kenapa. Sulit mencari tempat dimana saya bisa menangis dan tidak ditanya-tanya. Jadi ketika berdoa kadang saya harus mencari tempat dan waktu yang tepat jadi seringkali berdoa sekedar menyapa Tuhan tanpa ada keintiman, sekedar rutinitas dan kadang terlupakan. 

    JADI RESOLUSI TAHUN INI ADALAH TETAPLAH BERDOA. Sekalipun susah, senang, atau tidak keduanya saya ingin tetap berdoa.


    Happy new year!! Semangat menyambut tahun yang baru.

    Baca juga https://la-lilyofthevalley.blogspot.co.id/2017/12/greetings-from-lily-of-valley.html

    P .s :
    Semua gambar dan informasi yang tertera diambil dari berbagai sumber dan tidak ada maksud untuk melanggar atau menyalin karya orang lain.

    Mengeluh karena Sebal

    Hal yang Mengganggu "Kenapa sih? Nyebelin deh!" "Ih..Sebel bgt deh" "Dasar annoying" Mungkin ki...